2015, Belanja IT Indonesia Diprediksi US$ 15,6 miliar

2015, Belanja IT Indonesia Diprediksi US$ 15,6 miliar
Sejumlah orang mengunjungi pameran teknologi informasi di ajang Indocomtech 2014 di JCC, Rabu (29/10). Pameran IT terbesar di Indonesia tersebut akan berlangsung hingga 2 November 2014 mendatang. (Foto: Suara Pembaruan/Ruht Semiono)
Emmanuel Kure / YUD Rabu, 28 Januari 2015 | 20:55 WIB

Jakarta - PT IDC (International Data Corporation) Indonesia memprediksi, terdapat 10 tren IT (Informasi dan Telekomunikasi) yang bakal menghiasi Indonesia selama 2015. IDC berpendapat, pengeluaran untuk konsumsi di bidang IT bisa mencapai US$ 15,6 miliar selama 2015.

Konsumsi tersebut meliputi, smartphone, yang akan digunakan untuk kebutuhan e commerce, solusi e payment, solusi untuk kesehatan, dimana program BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) yang menjadi pemicu utamanya, solusi mobility enterprise, Hardware, mobile M2M (machine to machine), big data, solusi e government, tablet dan PC (Personal Computer), serta smart city.

Senior Market Analyst IDC Indonesia Lutfi Avianto Husein mengatakan, Indonesia merupakan salah satu negara di Asia pasifik yang memiliki pertumbuhan tertinggi terhadap pengeluaran untuk konsumsi di bidang IT. Meskipun, selama tiga kuartal terakhir pada 2014 mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi kurang dari 6%.

“Tingginya konsumsi IT di Indonesia dipengaruhi oleh gaya hidup konsumen yang terus memanfaatkan perangkat IT guna meningkatkan kualitas hidup. Melihat hal ini, pelaku industri pun berlomba-lomba untuk mempertahankan sekaligus memperbesar pangsa pasar mereka di tengah-tengah persaingan bisnis yang makin ketat,” kata Lutfi di Jakarta, Rabu, (28/1).

Menurut Lutfi, pengeluaran untuk belanja IT yang mencapai US$ 15,6 miliar selama 2015 akan dibagi dalam dua segmen. Pertama, Segmen consumer. Segmen ini, akan mengalokasikan dana sebesar US$ 8,3 miliar untuk berbelanja prangkat smartphone, tablet, serta notebook dan desktop. Masing-masing, smartphone, US$ 5,4 miliar, tablet US$ 1 miliar, serta desktop dan notebook US$ 0,9 miliar.

Kedua, segmen enterprise. Segmen ini akan mengalokasikan dana sebesar US$ 7,3 miliar untuk berbelanja kebutuhan infrastruktur, big data dan telekomunikasi.

“Spending bagi segmen consumer untuk meningkatkan kualitas hidup sekaligus lifestyle, sedangkan spending untuk big data demi mendapat ide-ide baru untuk kebutuhan bisnis, dan spending bagi kebutuhan enterprise dengan tujuan tetap kompetitif di pasar,” ungkap Lutfi.

Sumber: Investor Daily