Proses Pengambilan Keputusan TI di RI Beralih ke Open Source

Proses Pengambilan Keputusan TI di RI Beralih ke Open Source
Senior Vice President & General Manager Red Hat Asia Pacific, Dirk-Peter van Leeuewen, ( Foto: istimewa )
Imam Suhartadi / IS Selasa, 24 Januari 2017 | 23:25 WIB

Jakarta - Red Hat, Inc., penyedia solusi open source mengumumkan hasil studi yang dilakukan oleh Forrester Consulting, atas prakarsa Red Hat, mengenai pemanfaatan open source dalam inisiatif inovasi digital di wilayah Asia Pasifik.

Hasil studi tersebut yang terangkum dalam Open Source Drives Digital Innovation mengungkapkan bahwa para pengambil keputusan TI di Indonesia tengah beralih ke open source guna mendorong efisiensi dan inovasi digital yang lebih baik.

Penelitian ini mensurvei 455 CIO dan pengambil keputusan TI senior dari sembilan negara di Asia Pasifik. Wawasan mendalam dari studi ini menunjukkan responden dari Indonesia meyakini inovasi teknologi sangat penting atau kritikal bagi keberhasilan perusahaan mereka.

“Banyak orang mengantisipasi bahwa laju disrupsi digital akan terus meningkat, yang menimbulkan dampak yang lebih luas dan lebih dalam terhadap perusahaan, dan setiap industri akan segera menemukan pesaing digital mereka. Menjadi lebih mendesak dibanding sebelumnya bagi perusahaan untuk menemukan keunggulan kompetitif mereka sendiri melalui teknologi. Melalui pergeseran ini, open source telah berkembang dan memainkan peran yang semakin strategis sebagai pilihan default bagi inovasi teknologi guna membantu perusahaan meningkatkan kelincahan, efisiensi dan inovasi mereka,” kata Dirk-Peter van Leeuwen, Senior Vice President and General Manager, Asia Pacific, Red Hat dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Selasa (24/1).

Penelitian ini diprakarsai oleh Red Hat dan berakhir pada bulan September 2016. Forrester Consulting melakukan survei wawancara telepon dengan bantuan komputer (computer-assisted telephone interviewing/CATI) terhadap 455 pengambil keputusan TI senior dan CIO di sembilan negara di Asia Pasifik (Australia, Tiongkok, Indonesia, India, Jepang, Korea, Malaysia, Singapura dan Taiwan).

Survei terkostumisasi ini dilakukan terhadap perusahaan-perusahaan yang memiliki 1.000 karyawan atau lebih. Responden survei mencakup perusahaan-perusahaan di industri jasa keuangan, pemerintah, layanan kesehatan dan telekomunikasi.

Responden dari Indonesia melaporkan bahwa perusahaan mereka telah mengimplementasikan open source (35%) atau berencana untuk memperluas implementasi open source (6%%), sementara 59% responden berencana untuk menerapkan solusi-solusi open source dalam 12 bulan ke depan.

Solusi-solusi open source menawarkan beragam keuntungan, di antaranya implementasi yang lebih cepat dan peningkatan fleksibilitas, yang dapat memungkinkan perusahaan untuk menghadirkan pengalaman pelanggan, layanan, dan produk-produk baru dengan lebih cepat.

Enam puluh sembilan persen (69%) responden dari Indonesia melihat open source sebagai suatu inisiatif penghematan biaya, sedangkan 31% meyakini  open source merupakan suatu investasi yang strategis.

Penelitian Forrester secara global menunjukkan bahwa sejumlah perusahaan semakin memanfaatkan open source sebagai solusi kelas enterprise berkualitas tinggi yang dapat menjalankan aplikasi-aplikasi penting atau mission critical.

Open source juga dapat menciptakan cara-cara baru dalam melibatkan dan mengembangkan standar dan kolaborasi. Tiga puluh sembilan (39)% responden dari Indonesia menggunakan open source untuk mendukung inovasi bisnis dengan kemampuan-kemampuan baru dan 43% menggunakannya untuk ikut serta dalam suatu ekosistem mitra-mitra inovasi yang terbuka.

Prioritas Bisnis dan TI

Hasil survei mengidentifikasi bahwa agar dapat bersaing dengan sukses di era pelanggan ini, serta dapat terus menghadirkan kemampuan-kemampuan operasional kelas dunia, responden dari Indonesia berencana untuk berfokus pada tiga prioritas bisnis dan TI berikut ini dalam 12 bulan ke depan yaitu mengurangi biaya dan meningkatkan efisiensi operasional (59%), meningkatkan produktivitas karyawan (53%); dan meningkatkan kemampuan untuk berinovasi (45%).

Prioritas-prioritas tersebut di atas telah tercermin dalam inisiatif TI strategis responden selama 12 bulan ke depan guna mentransformasi baik teknologi-teknologi yang berurusan dengan masalah internal maupun yang berkaitan langsung dengan pelanggan (customer-facing):

Enam puluh sembilan persen (69%) mengidentifikasi integrasi systems-of-record back-end dengan customer-facing mobile dan web systems-of-engagement sebagai prioritas utama dan penting.

Enam puluh lima persen (65%) mengidentifikasi mobilitas bagi efisiensi tenaga kerja dan peningkatan bisnis sebagai prioritas utama dan penting.

Lima puluh sembilan persen (59%)mengidentifikasi konsolidasi sistem customer-facing dengan tujuan untuk menciptakan single customer view sebagai prioritas utama dan penting.

Lima puluh lima persen (55%) mengidentifikasi modernisasi aplikasi-aplikasi kuno pokok sebagai prioritas utama dan penting.

Penelitian ini memprediksi bahwa dalam kurun waktu dua hingga tiga tahun mendatang, peran open source akan semakin meningkat.

Responden survei dari Indonesia mengantisipasi bahwa penggunaan open source di dalam perusahaan mereka dapat meningkat sebesar 63% sebagai bagian dari infrastruktur hybrid cloud lincah mereka dan sebesar 47% dalam hal pengembangan aplikasi dan lingkungan DevOps.

“Para pelanggan yang diberdayakan secara digital telah mengambil kendali dari organisasi yang dahulu memegang kekuasaan. Mengikuti pertumbuhan tuntutan pelanggan tidak lagi dapat dicapai dari dalam sebuah organisasi. Oleh karena itu, perusahaan-perusahaan di Asia Pasifik harus memanfaatkan sumber-sumber teknologi, kemampuan, wawasan dan inovasi eksternal yang semakin terbuka,” kata Damien Wong, Vice President and General Manager, Asean, Red Hat.



Sumber: Investor Daily