Serangan Ransomware Turun, Mining Kripto Meningkat

Serangan Ransomware Turun, Mining Kripto Meningkat
Ilustrasi Malware ( Foto: Istimewa )
Herman / YUD Jumat, 8 Februari 2019 | 17:23 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Serangan program jahat (Malware) jenis Ransomware sempat membuat kegaduhan di seluruh dunia pada 2017, termasuk di Indonesia. Varian WannaCry dan Petya dilaporkan telah menjangkiti puluhan ribu komputer berbasis Windows dalam waktu singkat. Namun, eksistensinya kini perlahan meredup, tergantikan oleh Malware Mining Kripto yang mendominasi serangan siber sepanjang 2018.

Country Director Palo Alto Networks Indonesia, Surung Sinamo mengungkapkan, meskipun saat ini serangan Ransomware sudah mulai menurun, bukan berarti cara ini tidak akan dipakai lagi oleh penjahat siber. Justru di saat orang-orang mulai lengah dengan karakteristik serangan ini, penjahat siber bisa saja kembali melancarkan serangan Ransomware dengan varian baru.

"Sepanjang 2018, serangan Ransomware memang berkurang. Apalagi sudah ada Mining Kripto yang dianggap penjahat siber lebih menguntungkan. Ini kan seperti bisnis saja. Mana yang lebih mudah menghasilkan uang, itu yang akan dipakai. Tapi, kita tidak boleh lengah. Bisa saja ada varian baru yang lebih beragam dan berbahaya," kata Surung Sinamo, di Jakarta, Jumat (8/2).

Modus kejahatan siber dari Ransomware adalah dengan menyandera atau mengunci data milik korban, kemudian meminta uang tebusan bila ingin data tersebut bisa diakses kembali.‬ Ransomware biasanya masuk melalui email tipuan (phising) yang dibuka oleh korban.

Tren Malware

Surung memprediksi serangan Mining Kripto di tahun 2019 ini akan semakin meningkat. Selain itu, serangan malware yang lebih tertarget juga semakin tinggi. Karakteristiknya adalah menyerang secara perlahan hingga tidak terdeteksi oleh korban.

"Jenis serangan berbasis Malware ini biasanya menargetkan satu institusi atau perusahaan tertentu, di mana Malware-nya tidak terdeteksi karena menyerang secara perlahan dan bertahap. Padahal hacker-nya itu sedang mengawati" ujar Surung.

Serangan distributed denial of service atau DDoS menurutnya juga akan tetap tinggi. Modus dari kejahatan siber jenis ini adalah dengan menyerang infrastruktur suatu perusahaan. Caranya, dengan membuat banyak akses ke server perusahaan tersebut, sehingga perangkat tersebut menjadi lambat hingga tumbang.

Tujuan dari DDos ini adalah untuk melumpuhkan suatu service. Yang melakukan bisa dari pelaku bisnis yang ingin menghancurkan usaha pesaingnya, atau antar negara yang terlibat perang dingin.

"DDos akan tetap ada, dan menurut saya volumenya akan semakin meningkat di 2019 ini," kata Surung.