Menkominfo Ajak Masyarakat Perangi Hoax

Menkominfo Ajak Masyarakat Perangi Hoax
Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara (tengah) bersama praktisi media, Agus Sudibyo (kanan) saat talkshow dengan Beritasatu.com bertajuk "Pers Melawan Hoax" dalam rangka Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2019 di Grand City, Surabaya, Jumat 8 Februati 2019 yang dipandu Pemimpin Redaksi Beritasatu.com, Primus Dorimulu (kiri). ( Foto: Beritasatu / Anselmus Bata )
Amrozi Amenan / YUD Jumat, 8 Februari 2019 | 21:18 WIB

Surabaya, Beritasatu.com - Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengajak masyarakat bersama-sama memerangi peredaran hoax.

“Kita sama-sama memerangi hoax dengan cara sederhana, laporkan kalau itu ada hoax, kemudian kita sebarkan yang hoax yang sudah divalidasi oleh Kominfo seluas-luasnya. Karena viral kita lawan dengan viral, yang negatif kita isi dengan positif,” kata Rudiantara.

Hal tersebut dipaparkan Rudiantara saat menjadi pembicara dalam diskusi dengan topik “Pers Melawan Hoax” pada peringatan Hari Pers Nasional (HPN) di Grand City Surabaya, Jumat (8/2). Diskusi yang dipandu Pimred Beritasatu.com Primus Dorimulu juga menghadirkan Anggota Dewan Pers Agus Sudibyo sebagai pembicara.

Lebih lanjut Rudiantara menyatakan pemerintah telah melakukan berbagai langkah dalam menangani hoax. Misalnya, Kominfo melalui situs stophoax.id setiap hari menyediakan informasi tentang hoax yang beredar. Namun, tidak mudah bagi Kominfo untuk menyatakan atau memberi stempel ini hoax atau bukan.

“Seperti yang saya baca hari ini banyak makan ceker ayam dan sayap ayam bisa mengganggu kesuburan wanita. Itu hoax. Tapi untuk memberi stempel ini hoax atau bukan harus ada pembandingnya, tidak bisa mengatakan informasi yang kami yakini tidak benar langsung main stempel hoax. Nanti dianggapnya Kominfo, pemerintah, Rudi juga ikut menyebarkan hoax. Jadi betul-betul harus hati-hati dan kecepatan hoax itu luar biasa,” ungkapnya.

Selain upaya literasi dan meng-adress dunia maya, lebih dari itu Kominfo juga kini bekerjasama dengan jejaring. Jadi, bukan saja menyediakan informasi ini hoax atau bukan tetapi Kominfo mem-push jejaring-jejaring yang peduli terhadap hoax.

“Kami berikan informas Ini lho hasil prolink kami. Jadi bukan lagi orang yang akses stophoax.id, tapi stophoax.id-nya yang mendekatkan diri kepada kelompok-kelompok masyarakat yang memang concern dengan hoax. Sehingga kelompok masyarakat ini, grup apa grup apa akan viralkan lagi. Karena kalau orang melakukan viralisasi hoax kita melawannya dengan memviralkan lagi konten yang berlawanan,” beber Rudiantara.

Jadi, lanjutnya, selain membuka diri dan menerima laporan dari masyarakat, Kominfo juga mengaisnya melalui prolink serta mem-push ke masyarakat. “Upaya lain adalah memprosesnya secara hukum bila penyebaran hoax itu memenuhi ketentuan hukum atau melanggar apakah itu UU ITE atau KUHP. Selanjutnya pelanggaran itu akan ditindaklanjuti oleh polisi,” kata Rudi.

Sementara itu Agus Sudibyo mengatakan untuk menangani hoax ada beberapa pendekatan. Diantaranya, pendatakatan struktural, yakni kementerian medeteksi siapa yang menyebarkan dan menyikapinya. Pendekatan ini lumayan sudah berhasil. Namun, pendekatan struktural saja tidak cukup, dibutuhkan pendekatan jurnalistik, artinya wartawan dan para pengelola media kalau tahu itu hoax jangan ikut menyebarkan.

Media massa harus menyampaikan Sesuatu yang lebih baik dari apa yang tersebar di media sosial. Kalau yang meresahkan masyarakat adalah hoax, maka media massa harus menyebarkan anti hoax-nya.

“Kalau yang menyebar itu virus hoax maka anti virus hoax-lah yang harus disebarkan. Di beberapa negara media massa sangat berperan dalam memerangi hoax yaitu dengan menampilkan pemberitaan yang lebih baik yang lebih berimbang, bermartabat dan mencerahkan masyarakat,” katanya.

Tetapi pendekatan itu juga tidak cukup, pendekatan yang sangat penting juga adalah pendekatan kultural yang bebabasis komunitas yang ada di tengah-tengah masyarakat yang mengorganisir dan mendampingi literasi digital media sosial juga jauh lebih membantu memerangi hoax.

“Kalau mahasiswa, anak-anak muda atau karang taruna kaum milenial bersama-sama berbondong-bondong saling mengingatkan agar jangan menyebarkan hoax dan literasi digalakkan, hal itu akan bisa mengatasi penyebaran hoax. Mari sekarang rileks, santai, tidak perlu panik apabila tiba-tiba di smarphone kita ada hoax yang heboh atau kontroversial. Kalau kita panik, reaksioner para penyebar hoax akan senang karena tujuan tertentu mereka berhasil,” ungkap Agus.

Pendekatan lain adalah pendekatan korporasi. Media sosial seperti Facebook, Twitter dan lain sebagainya harus dilihat sebagai perusahan baru yang boleh berbisnis di Indonesia. Tetapi mereka juga harus bertanggung jawab dan menempatkan diri sebagai perusahaan yang juga ikut bertanggungjawab terhadap penyebaran hoax di media sosial.

Jangan sampai pelaku penyebar hoax ditangkap tetapi perusahaan media sosial yang ikut menyebarkan hoax itu masih kebal dari etika tak baik dari penyebaran hoax. Mereka seharusnya juga kelak menjadi objek hukum dan bertanggungjawab pada penyebaran hoax.

“Mereka juga harus ikut bertanggungjawab mendidik masyarakat, jadi bukan saja tanggungjawab Kominfo. Saya juga membayangkan nanti mereka harus menyisihkan keuntungannya untuk pendidikan kepada masarakat,” terang Agus.