Rudiantara: Teknologi Itu Bukan Dewa

Rudiantara: Teknologi Itu Bukan Dewa
Menkominfo, Rudiantara, dan Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso, dalam acara seminar dan talkshow "Fintech Goes To Campus" di Universitas Sebelas Maret, Solo, Sabtu, (9/3/2019) ( Foto: Beritasatu Photo / Emanuel Kure )
Emanuel Kure / FER Sabtu, 9 Maret 2019 | 19:21 WIB

Solo, Beritasatu.com - Pemerintah (dalam hal ini Kemkominfo dan OJK) senantiasa proaktif melindungi masyarakat dari potensi penipuan-penipuan dari pihak yang tidak bertanggungjawab. Terutama, dari praktik penipuan selama ini yang dilakukan oleh layanan financial technology (Fintech) ilegal.

"Kalau dulu ada laporan, nanti ke satgas (satuan tugas) lapor ke Kemkominfo baru diblok. Sekarang dibalik prosesnya. Kami, setiap hari melakukan penyisiran layanan fintech kepada masyarakat berbasis platform. Misalnya dalam penyisiran, kita dapat 200, kemudian bandingkan dengan daftar dari OJK. Begitu daftarnya beda, yang beda langsung kami tutup. Baik situs maupun aplikasi. Ini setiap hari kami lakukan. Karena setiap hari yang menipu ada saja. Pemerintah dan OJK proaktif tidak perlu menunggu laporan," kata Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Rudiantara, usai acara Seminar Nasional: Fintech Goes to Campuss, di Universitas Sebelas Maret, Solo, Sabtu (9/3/2019).

Meski demikian, Rudiantara menyampaikan, Kemkominfo terus mendorong perkembangan teknologi di tanah air, terutama teknologi fintech, karena terbukti mampu memberikan manfaat kepada masyarakat. Meskipun terdapat kekurangan di berbagai sisi, namun hal itu akan terus disempurnakan ke depannya. Pasalnya, teknologi dinilai hanya sebagai enabler, yang harus terus diperbaharui adalah pola pikir.

"Teknogi itu bukan dewa. Teknologi hanya sebagai enabler saja. Yang perlu kita kembangkan adalah pola pikir. Kita harus berani mengambil langkah-langkah taktis menyikapi perubahan yang terjadi di tengah masyarakat. Lihat saja, startup-startup. Mereka berani mengambil langkah-langkah revolusioner untuk berubah, tidak perlu terlalu sistematis. Yang penting jalan idenya," ungkap Rudiantara.

Oleh karena itu, kata Rudiantara, Indonesia dinilai masih banyak membutuhkan talenta digital untuk turut mengakselerasi perkembangan teknologi. Berdasarkan data dari dari World Bank, Mckinsey, dan sebagainya, kebutuhan talenta digital di Indonesia itu sekitar 9 juta orang dari 2015-2030 atau 600.000 orang dalam setahun.

"Sekarang belum terpenuhi. Kemkominfo mau bikin 20.000 orang, tapi kan ekosistem, fintech dan sebagainya juga bikin, tapi belum terstruktur. Kalau perkiraan saya, setahun belum sampai 100.000 orang, padahal kebutuhannya 600.000 orang. Jadi peluangnya untuk melakukan pendidikan di bidang digital itu masih tinggi," tandas Rudiantara.



Sumber: Investor Daily