Tangkal Aksi Curang, Grab Luncurkan Grab Defence

Tangkal Aksi Curang, Grab Luncurkan Grab Defence
Grab meluncurkan teknologi deteksi dan pencegahan kecurangan untuk para mitra, Grab defence, di Jakarta, Rabu (13/3/2019) ( Foto: Beritasatu Photo / Emanuel Kure )
Emanuel Kure / FER Rabu, 13 Maret 2019 | 17:23 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Grab, everyday super app terkemuka di Asia Tenggara meluncurkan teknologi deteksi dan pencegahan untuk para mitra, Grab defence. Dengan teknologi ini, para mitra Grab bisa mengurangi tindak kecurangan, demi memperkuat ekosistem teknologi dan transaksi. Melalui teknologi ini pula, Grab dapat mencegah aksi curang, seperti fake GPS, fake application dan fake transaction.

Head of User Trust of Grab, Wui Ngiap Foo, mengatakan, tindak kecurangan terus berevolusi. Oleh karena itu, pihaknya berusaha membangun algoritma (grab defence) yang juga dapat berevolusi dan mempelajari polanya, sehingga bisa selangkah lebih maju dari pelaku kejahatan.

"Setiap hari machine learning kami menganalisis jutaan data secara real time untuk mendeteksi pola kecurangan, baik yang telah ada, maupun yang baru. Perangkat Grab defence akan menjadi bagian dari strategi platform terbuka milik Grab, dan serangkaian Application Programming Interface (API) untuk membantu mitra mengintegrasikan layanan mereka dengan Grab,” kata Wui di Jakarta, Rabu, (13/3/2019).

Menurut Wui, berdasarkan data riset yang diperoleh dari pihak ketiga, yaitu dari Cybersource SEA Fraud Benchmark Report 2018, bisnis e-commerce di Asia Tenggara rata-rata kehilangan sekitar 1,6 persen pendapatan akibat dari tindakan kecurangan. Di Indonesia, bahkan lebih tinggi, yaitu sebesar 3,2 persen.

Tindakan kecurangan ini juga terjadi di sektor ride hailing. Bahkan, di sektor ini rata-rata dua per tiga pengemudi tahu, bahwa rekan pengemudi lainnya melakukan tindakan kecurangan. Tidak hanya itu, sebanyak 80 persen pengemudi rata-rata memperoleh order fiktif sekali dalam seminggu.

"Platform Grab defence ini mampu menekan tindak kecurangan yang dilakukan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Karena terdapat tiga teknologi penting yang terdapat dalam platform ini, yaitu entity intelligence services, event risk management suite, serta device network intelligence services," ujar Wui.

Wui melanjutkan, berdasarkan riset dari pihak ketiga juga, tindakan kecurangan di sektor ride hailing itu cukup tinggi. Bahkan, secara umum, tindakan kecurangan yang terjadi di pihak kompetitor Grab mencapai 30 persen. Sedangkan di Grab sendiri, berkisar di angka 5 persen.

"Namun, kami memiliki teknologi yang mumpuni, yang mampu menciptakan kepercayaan kepada pelanggan kami. Sehingga, berdasarkan data dari riset pihak internal kami, tindakan kecurangan ride hailing di Grab memang ada, tetapi hanya sekitar 1 persen saja. Hal itu terjadi, karena kami berinvetasi cukup besar di sektor kemanan. Kami benar-benar memperhatikan sektor keamanan. Karena ini menyangkut kepercayaan pelanggan,” ungkap Wui.

Sedangkan, President of Grab Indonesia, Ridzki Kramadibrata, menuturkan, di Indonesia, sindikat kejahatan sering mendapatkan keuntungan secara ilegal dengan memanfaatkan aplikasi GPS palsu, atau aplikasi yang dimodifikasi, serta metode lainnya untuk menciptakan pengalaman buruk bagi para pengguna Grab. Namun, pihaknya telah bekerja keras dengan beberapa langkah taktis, seperti kampanye Grab melawan Opik, grab fair play, serta bekerjsama dengan pihak Kepolisian.

"Upaya pencegahan tentu terus kami lakukan dan akan terus diperbaiki sistemnya. Terutama dengan kehadiran Grab defence ini, tentu akan memberikan kepercayaan yang lebih besar lagi kepada para pengguna Grab. Grab Defence diluncurkan pertama kali di Indonesia. Ini tentu merupakan sebuah kebangaan bagi kita semua. Ini akan menimbulkan kepercayaan yang besar kepada seluruh pengguna kami,” ungkap Ridzki.

Sementara, Kepala Sub Direktorat Penyidikan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) Teguh Arifiyadi mengungkapkan, fake GPS, fake application, maupun fake transaction merupakan masalaah yang serius di Indonesia. Sehingga, kehadiran teknologi Grab defence ini, dinilai sebagai terobosan yang positif untuk meminimalisir berbagai tindakan kejahatan maupun kecurangan.

"Harapannya dengan kehadiran Grab defence ini, mampu menciptakan trust kepada pengguna maupun mitra Grab di Indonesia. Karena, yang sangat bernilai dari sebuah layanan adalah soal kepercayaan," tutur Teguh.

Secara umum, lanjut Teguh, dari sisi regulasi sebetulnya sudah banyak aturan yang mewajibkan penyelenggara sistem untuk memastikan sistemnya handal, aman, dan bertanggungjawab. Salah satunya, yaitu Undang-undang (UU) Informasi Transaksi Elektronik (ITE).

"Terkait tindakan fraud, UU ITE juga, di situ ada beberapa pasal yang mengatur terkait larangan memanupulasi, termasuk fake GPS, akun palsu, dan sebainya. Intinya, sudah meng-cover adanya tindakan fraud ini. Dari sisi regulasi cukup. Tinggal bagaimana penerapannya," ungkap Teguh.

Teguh menambahkan, laporan masyarakat yang masuk ke Kemkominfo pada umumnya terjadi pada sektor e-commerce. Sektor ride hailing sendiri, masih kecil.

"Pengaduan yang tertinggi, yaitu fraud. Paling tinggi itu layanan jual beli e-commerce. Saat ini, kami menerima sekitar 2.615 laporan. Kalau ride hiling kecil, sekitar 5 persen hingga 7 persen dari jumlah tersebut," tandas Teguh.



Sumber: Investor Daily