Meski Khawatir Hoax, Publik Tetap Ingin Berita Gratis

Meski Khawatir Hoax, Publik Tetap Ingin Berita Gratis
Ilustrasi anti-"hoax". ( Foto: Antara )
Unggul Wirawan / WIR Rabu, 12 Juni 2019 | 10:46 WIB

Oxford, Beritasatu.com- Kabar baik buat jurnalisme! Saat ini, banyak orang khawatir tentang informasi yang salah dan beralih ke sumber informasi yang lebih tepercaya. Meskipun demikian, publik tetap tak ingin membayar untuk produk jurnalisme yang baik.

Laporan itu temuan penting dari Digital News Report tahun 2019, satu proyek penelitian besar dari Reuters Institute di Oxford University, berdasarkan survei daring terhadap 75.000 orang di 38 negara.

Di semua negara itu, 55% orang mengatakan mereka khawatir tentang informasi yang salah, dan di banyak tempat trennya meningkat meskipun ada upaya dari pemerintah dan perusahaan media sosial untuk mengatasinya.

Di Inggris, 70% responden setuju dengan pernyataan "Saya khawatir tentang apa yang nyata dan apa yang palsu di internet", naik 12% pada tahun lalu.

Laporan Digital News menyatakan sekitar seperempat merespons dengan beralih ke sumber berita yang lebih "terkemuka", dan angka itu naik menjadi 40% di AS. Namun sumber berita yang memiliki reputasi baik diserahkan kepada responden untuk menentukan.

Seorang responden Inggris dalam satu wawancara mendalam memperjelas pandangannya: "Saya pikir yang Anda percayai adalah media yang tradisional yang sudah ada sejak lama, seperti BBC,  Guardian, dan Independent".

Namun kepercayaan terhadap berita itu menurun secara global, yang tergambar dari penurunan tajam di Prancis, mungkin didorong oleh perpecahan karena liputan protes-protes rompi kuning.

Di Inggris, persentase berita yang dipercaya telah turun dari 51% pada 2015 menjadi 40% tahun 2019. BBC masih menduduki peringkat teratas sebagai sumber berita paling tepercaya, tepat di depan ITV News, Financial Times, dan Channel 4 News.



Sumber: Suara Pembaruan