Ini Dia Penyebab Kebobolan Data di Asia Pasifik

Ini Dia Penyebab Kebobolan Data di Asia Pasifik
perhatikan beberapa hal berikut ini saat ingin melakukan transaksi online
Unggul Wirawan / WIR Jumat, 21 Juni 2019 | 19:32 WIB

Jakarta, Beritasatu.com- Ketika negara-negara APAC (Asia Pasifik) terus mendorong agenda dan perkembangan digital, konsumen menghabiskan lebih banyak waktu di internet, terutama melalui ponsel cerdas. Fenomena keamanan digital menjadi sorotan ketika ada banyak kasus kebobolan data di Asia Pasifik.

Tingginya aktivitas penggunaan internet di Asia Pasifik mendorong perusahaan keamanan digital, ESET melakukan survei konsumen di seluruh wilayah bertujuan untuk mempelajari tentang perilaku dan kebiasaan daring mereka.

Sejumlah 2.000 responden dari masing-masing negara, yang terdiri dari Hong Kong, India, Indonesia, Malaysia, Singapura, Taiwan, dan Thailand disurvei. ESET mengungkap tiga penyebab utama pembobolan data tahun 2018, menurut Survei Perilaku Konsumen.

Penyebab pertama adalah serangan virus yang mencapai 27%, penyebab kedua adalah pelanggaran media sosial sebesar 20%, dan penyebab ketiga adalah pencurian data personal 19%.

“Di Indonesia, berdasarkan telemetri ESET, kita dapat mengetahui bahwa serangan virus masih mendominasi dari serangan siber yang masuk dan ini terjadi dari waktu ke waktu, menunjukkan kita masih lemah dalam hal kesadaran keamanan siber,” kata IT Security Consultant PT Prosperita – ESET Indonesia, Yudhi Kukuh.

Lemahnya kesadaran keamanan juga disorot dalam survei yang dilakukan ESET dengan hasil menunjukkan bahwa 27% responden percaya diri dalam memahami ancaman dunia maya.

Kondisi ini mengkhawatirkan karena sama artinya 73% responden lainnya mungkin hanya memiliki pemahaman yang dangkal tentang ancaman siber.

Ketika ditanya dari mana sebagian besar serangan siber berasal, responden merespon dengan mengatakan “Mengunduh file dari internet” sebagai pilihan utama mereka.

Sejumlah 28% pengguna internet Indonesia tidak pernah menggunakan sumber tidak resmi saat mengunduh atau streaming video karena sadar bahaya situs semacam itu.

Sebaliknya 72% responden menggunakan sumber yang tidak resmi. Ditambah sebagian besar responden yang mengakses internet via ponsel sebesar 90%, menempatkan mereka dalam bahaya infeksi malware.

“Seiring kita terus menuju masa depan yang lebih digital, penting bagi konsumen untuk memahami jenis ancaman yang berpotensi mereka hadapi dan bagaimana mereka dapat menghindarinya. Tidak dapat dihindari bahwa kita perlu membagikan data kita secara online, tetapi melakukannya dengan aman adalah yang menjadi perbedaan besar,” kata Nick FitzGerald peneliti senior ESET.



Sumber: Suara Pembaruan