Petabencana.id, Platform Pelaporan Bencana Via Medsos

Petabencana.id, Platform Pelaporan Bencana Via Medsos
Yayasan Peta Bencana dan BNPB luncurkan Petabencana.id, platform pelaporan bencana via media sosial di Jakarta, Selasa (11/2/2020). ( Foto: Beritasatu Photo / Indah Handayani )
Indah Handayani / FER Selasa, 11 Februari 2020 | 22:48 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Yayasan Peta Bencana dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meluncurkan Petabencana.id, sebuah platform pelaporan bencana lewat media sosial (Medos).

Awal 2020, 86 Orang Tewas Akibat Banjir

Direktur Petabencana.id, Nashin Mahtani, mengatakan platform online ini terbuka dan gratis dalam menyediakan informasi bencana real-time dan komunikasi transparan antara warga dan lembaga pemerintah, untuk mengurangi risiko dan mempercepat waktu tanggap darurat.

"Uniknya, platform online ini memanfaatkan penggunaan medsos untuk memilah informasi bencana dari warga di lokasi bencana, yang memiliki informasi paling mutakhir, dan menampilkan informasi ini langsung dalam peta berbasis web," ungkap Nashin di sela peluncuran Petabencana.id di Jakarta, Selasa (11/2/2020).

Nashin menambahkan semua penduduk Indonesia bisa mengirimkan laporan bencana melalui akun twitter @petabencana, mengirim pesan facebook ke @petabencana, atau mengirim pesan telegram ke @bencanabot.

"Pemerintah juga bisa memantau peta tersebut untuk mengukur situasi dan respon yang sesuai, juga dapat menampilkan kondisi terkini pada peta untuk memperingatkan warga tentang kondisi bencana," jelas Nashin.

Cegah Karhutla Lewat Pendidikan Anak Sejak Dini

Menurut Nashin, mengacu pada bukti bahwa pengumpulan, pembagian dan visualisasi data berbasis komunitas telah mengurangi risiko bencana dan membantu upaya pertolongan, pada 2020 platform ini akan berekspansi untuk mendukung seluruh Indonesia.

"Selanjutnya, masih di tahun yang sama PetaBencana.id juga akan mengembangkan mekanisme laporan dengan menyertakan laporan bencana lain, termasuk gunung api, gempa bumi, angin kencang, dan kebakaran hutan dan lahan atau karhutla," tandas Nashin.

Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Agus Wibowo, menambahkan, transparansi platform ini menyediakan keterbukaan akses pada informasi darurat yang dibutuhkan untuk membuat keputusan bagi warga, organisasi komunitas, lembaga kemanusiaan, dan lembaga pemerintah.

"Sehingga membangun kolaborasi dan respon yang terkoordinasi dalam kejadian bencana di seluruh wilayah Indonesia," jelas Agus Wibowo.



Sumber: Investor Daily