Tiongkok Incar Pasar Online Indonesia

Tiongkok Incar Pasar Online Indonesia
Sejumlah booth menawarkan produk elektronik dan aksesorisnya di ICEE 2018 di JCC Jakarta, 7-9 Desember 2018. (Foto: ist / ist)
Mardiana / MAR Minggu, 9 Desember 2018 | 01:05 WIB

Jakarta – Produk elektronik asal Tiongkok mengincar pasar Indonesia, termasuk pasar penjualan online. Sejumlah produk pun dipamerkan di International Consumer Electronics Expo (ICEE) Indonesia 2018, di JCC Jakarta, 7-9 Desember 2018.

Seperti diketahui, berdasarkan data dari Trading economic, Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia mencapai US$ 1 triliun , atau setara dengan Rp.15 triliun.

Pencapaian ini menjadikan Indonesia sebagai pemain terbesar di wilayah Asia Tenggara. Hal ini didasari juga pesatnya pertumbuhan pengguna internet dan pengguna telpon pintar, sehingga tingkat konsumsi masyarakat meningkat menjadikan bisnis¬e-commerce kian berkembang. Laporan PPRO, perusahaan layanan pembayaran terkemuka di dunia tentang pembayaran dan perdagangan online tahun 2018, menyatakan Indonesia memiliki pertumbuhan tertinggi mencapai 78% per tahun.

“Meskipun penjualan online, termasuk elektronik baru mencapai 10%, namun pertumbuhan ecommerce di Indonesia menjanjikan. Ini menjadi peluang bagi peserta pameran International Consumer Electronics Expo (ICEE) Indonesia 2018 yang sebagian berasal dari Tiongkok, khususnya Shenzhen,” kata Roy Wong, panitia ICEE 2018 sekaligus consultant e-commerce Jakarta PT. Shan Hai Map di sela seminar Indonesia International Electronics Supply Chain Conference (INESCON) 2018, yang merupakan rangkaian pameran ICEE di Jakarta Convention Center (JCC) Jakarta, Sabtu (8/12).

Melalui pameran ICEE ke-3 ini, berbagai produk dari 170 peserta yang sebagian besar berasal dari Shenzhen, Tiongkok, dan Indonesia itu siap masuk pasar Indonesia, baik melalui penjualan online, maupun online.

Sesuai tema seminar yang diusung INESCON, “Speed UpYour Business WithE-commerce”, meskipun pasar ecommerce di Indonesia besar, namun, kata Daniel Liu dari Rocketindo, tak mudah masuk pasar online di Indonesia. “Karena itu butuh agen yang dapat mengoperasikan toko online di Indonesia secara one stop solution, mulai dari tim marketing, iklan, distribusi, sampai dengan pergudangan,” kata Daniel yang menawarkan jasa tersebut di Rocketindo.

Hal senada dikatakan Veneranda Adelia Wijaya, business development executive Asia Commerce. “Salah satu permasalahan penjualan online adalah dibutuhkan resource dan pergudangan. “Asia Commerce menjadi jembatan untuk kebutuhan itu,” kata Veneranda yang sudah memiliki 7 klien dari Tiongkok dengan berbagai produk, mulai makanan hingga kosmetik.

“Di ICEE ini kami menargetkan bisa mendapatkan 20 klien perusahaan elektronik dan asksesorisnya,” harap dia.

Selain menyasar pasar online, ICEE juga siap memasok produk aksesoris elektronik ke pasar mikro yang tak memiliki akses terhadap finansial macam bank. “Kami memberikan pinjaman berupa pasokan barang kepada warung-warung aksesoris HP, seperti kabel data, earphone, dan lain-lain,” kata Nathaniel Nugroho, branding & strategy manager Ocean Going.

“Saat ini kami baru beroperasi di Jabodetabek dan telah memasok ke 20 ribu warung. Pada 2019, kami menargetkan 10 ribu warung lagi,” kata Nathaniel yang mengklaim omset warung mitranya melonjak 30-50% sejak mendapatkan bantuan dari Ocean Going.

ICEE bertujuan mempertemukan e-commerce enablers dan e-commerce services, serta pendukung lainnya seperti logistic dan warehouse, solusi pembayaran dengan online maupun offline merchant, distributor dan pengusaha manufaktur dari berbagai negara. Pameran yang digelar 7-9 Desember 2018 itu menargetkan dikunjungi 10 ribu orang.



Sumber: BeritaSatu.com