Gunakan AI, Aplikasi Cashwagon Ungkap Kasus Penipuan

Gunakan AI, Aplikasi Cashwagon Ungkap Kasus Penipuan
CEO PT Kas Wagon Indonesia, Asri Anjarsari. ( Foto: Beritasatu Photo / Istimewa )
Feriawan Hidayat / FER Senin, 25 Februari 2019 | 19:09 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Popularitas platform financial technology (Fintech) yang sedang naik daun membuat celah seseorang untuk melakukan tindak kriminal penipuan. Caranya, dengan mencoba mengajukan pinjaman menggunakan data orang lain.

Hal ini berhasil dideteksi oleh sistem pengajuan Cashwagon. Sistem teknologi yang terdiri dari Artificial Intelligent (AI), Machine Learning dan Big Data ini, mampu menemukan aplikasi mencurigakan yang dilakukan sindikat untuk menipu.

"Kasus yang kami temui ini sangat berbahaya karena mereka menggunakan data asli milik orang lain, sehingga reputasi orang tersebut bisa menjadi jelek nantinya," kata CEO PT Kas Wagon Indonesia yang mengoperasikan platform Cashwagon, Asri Anjarsari, kepada Beritasatu.com, Senin (25/2/2019).

Asri Anjarsari mengatakan, menurut sistem pemrosesan aplikasi Cashwagon, pelaku penipuan mencoba mengajukan pinjaman dengan menggunakan dokumen orang sungguhan yang bukan milik penipu. Sindikat penipu ini, melakukan pinjaman dari berbagai perangkat dengan lokasi geografis yang berbeda-beda.

"Berdasarkan jejak digital yang diperoleh, platform Cashwagon memungkinkan untuk melacak pola kejahatan dan menetapkan identitas pelaku penipuan dan lokasi mereka," jelas Asri Anjarsari.

Sesuai Persyaratan OJK

Asri Anjarsari menambahkan, dalam kerja sama yang erat dengan pihak kepolisian, Cashwagon menghasilkan bukti kuat atas kasus penipuan ini. Rincian kasus dilindungi dari pengungkapan publik, namun Cashwagon terus bekerja sama dengan kepolisian untuk mendeteksi, mengidentifikasi dan menuntut penipu.

"Prioritas utama Cashwagon adalah keselamatan pelanggan, sehingga perusahaan melakukan segala upaya untuk melindungi mereka," tambah Asri Anjarsari.

Asri Anjarsari menambahkan, kebijakan anti-penipuan internal Cashwagon sepenuhnya dilakukan untuk mematuhi persyaratan dan aturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan dirancang untuk memberikan layanan keuangan yang sehat dan dapat diandalkan kepada publik, melindungi kepentingan investor secara menyeluruh, dan mencegah kejahatan.

"Kami akan terus melindungi pelanggan kami dan bekerja sama dengan pihak kepolisian untuk memastikan keamanan pengembangan industri fintech di tanah air," jelas Asri Anjarasari.



Sumber: BeritaSatu.com