Operator Harus Optimalkan Masa Uji Coba di MRT Jakarta

Operator Harus Optimalkan Masa Uji Coba di MRT Jakarta
Presiden Joko Widodo (tengah) saat mencoba moda transportasi MRT dari Stasiun Bundaran HI-Lebak Bulus-Bundaran HI di Jakarta, Selasa 19 Maret 2019. ( Foto: SP/Joanito De Saojoao. / SP/Joanito De Saojoao. )
Feriawan Hidayat / FER Rabu, 27 Maret 2019 | 21:20 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Operator disarankan untuk mengoptimalkan masa uji coba yang diberikan mitra penyedia sarana telekomunikasi pasif PT MRT Jakarta guna melihat pola trafik komunikasi di sepanjang rute moda transportasi yang melayani masyarakat ibukota itu.

"Setahu saya, mitra penyedia sarana telekomunikasi MRT Jakarta itu memberikan kesempatan semua operator untuk melakukan trial (uji coba) gratis di rute moda transportasi itu. Operator manfaatkan masa trial itu karena bisa melayani pelanggannya dan mengevaluasi pola trafik di stasiun bawah atau di atas tanah serta selama moda melewati tunnel," saran Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Kristiono di Jakarta, Rabu (27/3/2019).

Menurut Kristiono, langkah trial bisa dilakukan operator paralel dengan negosiasi bisnis bersama penyedia sarana telekomunikasi pasif sehingga lebih efisien dan tepat waktu kala masa komersial. "Ikut trial akan memudahkan operator tahu trafik dan kebutuhan pelanggan sehingga memudahkan bagi mereka dalam berhitung cost benefit," tukas Kristiono.

Pelaksana Dewan TIK Nasional (Wantiknas), Garuda Sugardo, mengingatkan ketersediaan layanan seluler di sepanjang rute yang dilalui Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta adalah sesuatu yang vital dan wajib dihadirkan operator seluler.

"Di zaman digital ini, ketiadaan sinyal seluler di kota metropolitan, apalagi di arena publik, adalah suatu yang mustahil. Jangan berharap terjadi migrasi pelanggan karena ada blankspot di ruas perjalanan sepanjang MRT Jakarta yang hanya butuh waktu tempuh 40 menit itu. Semua operator sejatinya harus sediakan layanan di sepanjang MRT Jakarta," katanya.

Menurut Garuda Sugardo, ketersediaan layanan seluler tak hanya masalah memenuhi hasrat berkomunikasi pengguna tetapi juga untuk antisipasi jika terjadi sesuatu yang tak diharapkan, misalnya krisis kala MRT berada di dalam terowongan.

"Terowongan MRT bukanlah bandara yang merupakan airspace terbuka. Terowongan adalah dunia bawah tanah di mana tenaga listrik dan redundansi harus tersedia. Terowongan MRT adalah Sangkar Faraday di mana sinyal seluler mutlak memerlukan alternatif. Banyak cerita di mana nyawa manusia dapat tertolong selama ponselnya masih berfungsi. Bila tanpa pilihan, tanpa sinyal, bagaimana komunikasi dapat terjadi just in case of sadness?" tandas Garuda Sugardo.

Sekjen Pusat Studi Kebijakan Industri dan Regulasi Telekomunikasi Indonesia-ITB (PIKERTI-ITB), M Ridwan, mengakui, penyediaan coverage seluler di rute MRT Jakarta hal yang penting agar masyarakat merasa aman dan nyaman.

"Setahu saya maintenance untuk fasilitas telekomunikasi di jalur MRT Jakarta ini agak kompleks tak sama dengan bandara atau gedung tinggi. Maintenance hanya bisa dilakukan di jam tertentu untuk fasilitas telekomunikasi. Belum lagi soal ketersediaan listrik yang harus 24/7. Jadi, secara teknis memang ini sesuatu yang pertama bagi Indonesia," kata Ridwan.

Ridwan melihat banyaknya operator yang masih terkesan menunggu untuk masuk ke rute MRT Jakarta tak hanya masalah harga sewa tetapi belum bisa memprediksi trafik yang akan didapat.

"Saya lihat ini dampak dari selama ini operator perang tarif sehingga dana untuk re-investasi di jaringan yang masuk segmen baru itu mikirnya agak lama. Ini miriplah dengan menggarap area rural, kan saling menunggu. Kecuali yang memang punya investasi besar, kan mikirnya layanan utama," ulas  Ridwan.

Padahal, tambah Ridwan, jika melihat animo dan strategisnya rute yang dilalui MRT Jakarta, sepertinya trafik yang dihasilkan lumayan menjanjikan.

"Operator kalau mau maju memang jangan saling menunggu, harus ada inisiatif. Ini kan masalah brand image juga. Masa sih sampai ada layanan seluler absen di MRT Jakarta yang katanya simbol peradaban baru bangsa Indonesia," tegas Ridwan.



Sumber: BeritaSatu.com