320 Hoax Beredar di 2019, Mayoritas Bertema Politik

320 Hoax Beredar di 2019, Mayoritas Bertema Politik
Kampanye anti-"hoax". ( Foto: Antara )
Herman / YUD Senin, 8 April 2019 | 18:47 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Menjelang dilaksanakannya Pemilu 2019, peredaran berita palsu atau hoax semakin meningkat. Berdasarkan data yang dihimpun Masyarakat Anti Fitnah dan Hoax (Mafindo), totalnya sudah ada 320 konten hoax yang beredar di internet dan media sosial, dengan rincian di Januari 2019 sebanyak 109 konten, Februari 2019 104 konten, dan Maret 2019 107 konten.

Inisiator Mafindo, Septiaji Eko Nugroho menyampaikan, hoax terkait politik masih menjadi yang paling banyak di 2019 ini. Persentasenya di Januari 2019 mencapai 58%, Februari 2019 71%, lalu di Maret 2019 sebanyak 73%.

"Hoax bertema politik semakin marak beredar jelang Pemilu 2019. Penyebarannya mayoritas di Facebook, Twitter, dan WhatsApp. Bentuknya paling banyak berupa narasi dan foto," kata Septiaji Eko Nugroho, di acara diskusi publik "Lawan Hoax Demi Keutuhan Bangsa & Negara", di Jakarta, Senin (8/4/2019).

Selain Paslon nomor 01 yang paling banyak menjadi target penyebaran berita hoax, Eko menyampaikan berita hoax yang berpotensi mendelegitimasi penyelenggara Pemilu 2019 juga semakin marak beredar, bahkan cepat sekali menjadi viral.

Misalnya saja terkait hoax server KPU di Singapura, Mafindo menemukan penyebaran yang massif di media sosial sebanyak lebih dari 45.000 shares dan 974.000 views hanya dalam waktu 24 jam. Konten tersebut tersebar di semua platform populer seperti Facebook, Twitter, dan Instagram. Ini belum termasuk penyebaran di grup Whatsapp yang diduga angkanya bisa jauh lebih besar.

Menurut Eko, hoax Server KPU adalah yang paling besar dan paling cepat penyebarannya di masyarakat Indonesia terkait penyelenggaraan Pemilu. Penyebaran hoax ini berpotensi merusak legitimasi penyelenggaraan Pemilu dan bisa berdampak fatal bagi masa depan demokrasi Indonesia.

"Ini hal yang sangat disayangkan. Perbincangan di media sosial kita masih dikotori oleh berita-berita hoax. Dalam hal ini, seharusnya para elit politik juga bisa menjadi contoh. Kontestasi politik memang bagian dari demokrasi, tetapi jangan mentolelir kebohongan. Karena yang diserang adalah kubu lain, lalu kita hanya diam saja," ujar Eko.



Sumber: BeritaSatu.com