Ini 12 Ciri Berita Hoax

Ini 12 Ciri Berita Hoax
Ilustrasi anti-"hoax". ( Foto: Antara )
Herman / YUD Senin, 8 April 2019 | 20:05 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Meningkatnya penggunaan media sosial yang tidak diimbangi dengan literasi digital membuat berita palsu alias hoax kian masif beredar. Beredasarkan data Masyarakat Anti Fitnah dan Hoax (Mafindo), dalam tiga bulan pertama di 2019 saja sudah ditemukan 320 konten hoax, di mana mayoritasnya bertema politik.

Ketua Dewan Pers, Yosep Adi Prasetyo menyampaikan, hoax merupakan kepalsuan yang sengaja dibuat untuk menyaru sebagai kebenaran. Kepalsuan tersebut umumnya menggunakan data, foto dan kutipan orang, sehingga dianggap orang yang membacanya sebagai sebuah kebenaran.

"Berita hoax biasanya diciptakan oleh orang pintar tapi jahat, dan disebarluaskan oleh orang baik tapi bodoh. Alasan mereka meneruskan berita hoax karena berita tersebut didapatkan dari orang yang dipercaya, mengira bermanfaat, mengira benar, dan ingin dianggap jadi yang pertama tahu," kata Yosep Adi Prasetyo, di acara diskusi publik "Lawan Hoax Demi Keutuhan Bangsa & Negara", di Jakarta, Senin (8/4/2019).

Dikatakan Yosep, berita hoax sebetulnya bisa dikenali lewat konten yang ditampilkan. Agar tidak menjadi korban pembuat berita hoax, berikut ini ciri-ciri hoax yang bisa dikenali :

1. Menciptakan kecemasan, kebencian, permusuhan.

2. Sumber tidak jelas dan tidak ada yang bisa dimintai tanggung jawab atau klarifikasi.

3. Pesan sepihak, menyerang, dan tidak netral atau berat sebelah.

4. Mencatut nama tokoh berpengaruh atau pakai nama mirip media terkenal.

5. Memanfaatkan fanatisme atas nama ideologi, agama, suara rakyat.

6. Judul dan pengantarnya provokatif dan tidak cocok dengan isinya.

7. Memberi penjulukan.

8. Minta supaya di-share atau diviralkan.

9. Menggunakan argumen dan data yang sangat teknis supaya terlihat ilmiah dan dipercaya.

10. Artikel yang ditulis biasanya menyembunyikan fakta dan data serta memelintir pernyataan narasumbernya.

11. Berita ini biasanya ditulis oleh media abal-abal, di mana alamat media dan penanggung jawab tidak jelas.

12. Manipulasi foto dan keterangannya. Foto-foto yang digunakan biasanya sudah lama dan berasal dari kejadian di tempat lain dan keterangannya juga dimanipulasi.



Sumber: BeritaSatu.com