Perangi Hoax, Kemkominfo Luncurkan Layanan Chatbot

Perangi Hoax, Kemkominfo Luncurkan Layanan Chatbot
Dirjen Aptika Kemkominfo, Semuel Abrijani Pangerapan (kanan), saat konferensin pers terkait revisi PP 82/2013, di Gedung Kemkominfo, Jakarta, Rabu, (31/10). ( Foto: Beritasatu Photo / Emanuel Kure )
Herman / YUD Jumat, 12 April 2019 | 16:53 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Guna memerangi konten hoax yang banyak beredar di media sosial dan aplikasi pesan instan, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menyediakan layanan chatbot yang diberi nama "Chatbot Anti Hoaks".

Chatbot Anti Hoaks ini merupakan piranti luncak berupa program komputer yang dikembangkan oleh startup Prosa. Saat ini teknologi tersebut sudah diaplikasikan di aplikasi pesan instan Telegram melalui akun @chatbotantihoaks.

"Layanan Chatbot Anti Hoaks ini merupakan bagian dari upaya yang terus dilakukan Kementerian Kominfo dalam memerangi hoax," kata Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo, Semuel Abrijani Pangerapan, di acara peluncuan layanan Chatbot Anti Hoaks, di Jakarta, Jumat (12/4/2019).

Untuk menggunakan Chatbot yang sudah terkoneksi dengan aplikasi Telegram ini, pengguna terlebih dahulu harus terhubung dengan akun @chatbotantihoaks. Melalui akun tersebut, pengguna Telegram bisa bertanya langsung terkait kebenaran sebuah informasi yang diterimanya, apakah hoax atau memang fakta.

Chatbot saat ini hanya menerima input berupa artikel atau informasi dalam bentuk teks, namun ke depannya juga bisa dalam bentuk gambar. Chatbot Anti Hoaks nantinya akan memberikan rekomendasi hoax atau fakta berdasarkan referensi yang ditemukan dalam database.

Informasi klarifikasi hoax yang disajikan melalui chatbot berasal dari data base stophoax.id dan beberapa media yang telah ditunjuk sebagai fact-checker, atau pangkalan data Mesin AIS Kemkominfo.

Samuel berharap ke depannya aplikasi pesan instan lain juga bisa memanfaatkan teknologi yang dikembangkan Kemkominfo bersama Prosa ini, atau mengembangkan teknologi sendiri dengan layanan serupa.

Sebelumnya, WhatsApp bersama Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) sudah terlebih dahulu meluncurkan layanan serupa sebagai media pelaporan atau bertanya di nomor WhatsApp 085574676701.

Inisiator Mafindo, Septiaji Eko Nugroho menyampaikan, inisiatif yang dilakukan ini adalah yang kedua di dunia setelah India melakukannya terlebih dahulu. Tujuannya untuk memudahkan masyarakat dalam proses verifikasi informasi terhadap foto, video, teks, atau audio yang memiliki potensi misinformasi.

"Begitu cepatnya sebuah berita hoax menjadi viral biasanya karena yang menerima malas melakukan cek fakta dan langsung menyebarkan informasi tersebut. Tidak semua orang juga bisa melakukan hal itu dan memang membutuhkan waktu. Melalui layanan Whatsapp di nomor 085574676701, masyarakat bisa dengan mudah bertanya apakah informasi yang diterimanya itu hoax atau bukan," kata Septiaji Eko Nugroho.



Sumber: BeritaSatu.com