Dua Tahun Lagi, Konsumen Indonesia Ingin Gunakan 5G

Dua Tahun Lagi, Konsumen Indonesia Ingin Gunakan 5G
Head of Network Solutions Ericsson Indonesia Ronni Nurmal menjelaskan ConsumerLab baru, 5G Consumer Potential di Jakarta, Selasa (21/5/2019). ( Foto: Ericsson Indonesia / Dokumentasi )
Unggul Wirawan / WIR Kamis, 23 Mei 2019 | 14:36 WIB

Jakarta, Beritasatu.com- Di Indonesia, laporan Ericsson menunjukkan bahwa sekitar separuh dari pengguna ponsel pintar akan mengganti operator mereka dalam kurun waktu enam bulan jika operator yang ada saat ini tidak menyediakan layanan 5G.

Temuan fakta dalam laporan ConsumerLab baru yakni 5G Consumer Potential ini sekaligus menyanggah empat mitos 5G yakni bahwa 5G tidak menawarkan manfaat jangka pendek bagi pelanggan; Tidak ada penerapan 5G yang sesungguhnya, juga tidak ada harga premium pada 5G; Ponsel pintar akan menjadi "silver bullet" untuk 5G: solusi tunggal ajaib yang memberikan layanan 5G; serta Pola penggunaan saat ini dapat dijadikan landasan untuk memprediksi permintaan 5G pada masa depan.

Pengguna ponsel pintar di seluruh dunia mengatakan bahwa mereka bersedia membayar 20 persen lebih mahal untuk layanan 5G, sementara sebagian dari early adopter berani membayar lebih, sebesar 32%.

“Dengan mematahkan mitos-mitos industri ICT ini, kami menemukan fakta bahwa konsumen di Indonesia sungguh menantikan kehadiran 5G dan berharap generasi baru dari konektivitas mobile ini dapat menjadi game-changer. Bagi operator, hal tersebut menjadi keuntungan bagi pemain bisnis dan juga potensi bisnis berupa penambahan pendapatan sebesar 30 persen dari pasar 5G di tahun 2026,” tutup Jerry Soper, Head of Ericsson Indonesia.

Dengan peningkatan kesadaran konsumen mengenai 5G, rata-rata responden percaya bahwa 5G akan diterapkan dalam dua tahun mendatang. Pengguna ponsel pintar bersedia membayar harga premium sebesar Rp30.000 untuk menikmati layanan 5G. Early adopter bahkan bersedia membayar lebih sebesar Rp50.000.

Hal tersebut sejalan dengan ekspektasi akan hadirnya layanan yang dapat memberikan pengalaman imersif untuk kegiatan olahraga dan berbagai acara lainnya, saat Augmented reality (AR) dan hubungan telepon menggunakan holografik 3D akan menjadi dua terapan utama yang akan tersedia saat 5G hadir.

Berdasarkan prediksi pola penggunaan yang dilakukan konsumen, rata-rata penggunaan data ponsel melalui perangkat 5G dapat meningkat hingga 60GB/bulan, dan pengguna ponsel pintar dengan konsumsi data yang besar dapat menghabiskan 110GB setiap bulannya.

Sebagai tambahan, sekitar 40% pengguna ponsel pintar di Indonesia percaya bahwa ponsel pintar tidak akan dapat menyerap seluruh keuntungan yang dapat diberikan 5G, dan mereka juga percaya bahwa penggunaan kacamata AR akan menjadi satu keharusan pada tahun 2025.

Di Indonesia, konsumen mengharapkan pengalaman baru berinternet dengan 5G, yang dapat membawa dampak positif bagi berbagai sektor dari aplikasi untuk konsumen hingga industri otomotif.

Sekitar 75% konsumen percaya kecepatan ultra-high internet dan konektivitas andalan yang dimiliki 5G dapat memfasilitasi orang-orang untuk bekerja di mana saja - layaknya membawa kantor ke manapun. Sementara 67 % mengatakan bahwa konektivitas internet 5G di mobil akan sama pentingnya dengan efisiensi bahan bakar dalam 5 tahun mendatang.



Sumber: Suara Pembaruan