Sektor Pendidikan Jadi Target Empuk Serangan Siber

Sektor Pendidikan Jadi Target Empuk Serangan Siber
Presiden Direktur Dimension Data Indonesia, Hendra Lesmana. ( Foto: Beritasatu Photo / Herman )
Herman / FER Selasa, 18 Juni 2019 | 16:52 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Berdasarkan laporan terbaru Dimension Data bertajuk Executive Guide to the NTT Security 2019 Global Threat Intelligence Report, sektor keuangan dan teknologi dinilai masih menjadi sektor yang paling banyak mendapat serangan siber secara global di tahun 2018.

Total serangan di sektor ini masing-masing mencapai 17 persen dari seluruh serangan yang ada pada berbagai sektor industri. Tiga sektor lainnya yang juga mendapatkan paling banyak serangan adalah sektor bisnis dan layanan profesional (12 persen), pendidikan (11 persen), serta pemerintahan (9 persen).

Kondisi berbeda terjadi di kawasan Asia Pasifik. Sektor teknologi memang tetap menjadi sektor yang paling banyak mendapat serangan siber dengan persentase 19 persen. Ini tidak terlepas dari tren e-Commerce yang sedang berkembang pesat di beberapa negara di kawasan Asia Pasifik. Namun di urutan kedua, justru sektor pendidikan yang mendapatkan paling banyak serangan dengan persentase 17 persen, baru setelah itu sektor keuangan (15 persen), pemerintahan (13 persen), dan manufaktur (8 persen).

Presiden Direktur Dimension Data Indonesia, Hendra Lesmana menyampaikan, sektor pendidikan sejak tiga tahun terakhir ini memang telah menjadi salah satu sektor utama yang menjadi target serangan siber. Hal ini tidak terlepas dari masih rendahnya kesadaran para pelaku di sektor pendidikan terhadap keamanan siber. Banyak juga yang tidak sadar kalau mereka sudah menjadi target utama.

"Sistem pembelajaran saat ini kan sudah menggunakan perangkat elektronik seperti komputer atau laptop. Misalnya untuk PR, sekarang ini bisa dikerjakan di aplikasi dan langsung dikirim ke gurunya. Tetapi banyak yang tidak sadar kalau mereka sudah menjadi target utama serangan siber. Dipikirnya hanya sektor keuangan dan teknologi saja yang menjadi target,” kata Hendra Lesmana, di Jakarta, Selasa (18/6/2019).

Seiring dengan peningkatan serangan chryptojacking sebesar 459 persen di tahun 2018, Hendra mengatakan, perangkat komputer di sektor pendidikan seringkali dimanfaatkan oleh penjahat siber untuk menambang uang digital, sehingga membuat perangkat tersebut menjadi lemot.

"Kalau dilihat, misalnya ada 20-an komputer di laboratorium dan hanya dipakai saat jam sekolah saja. Ini bisa disusupi malware dan dipakai untuk chryptojacking. Resource CPU dipergunakan untuk hal-hal yang ilegal tanpa disadari penggunanya untuk menambang bitcoin,” ungkap Hendra.

Masih dari data Dimension Data, 20 persen serangan siber berasal dari Amerika Serikat (AS), sementara 14 persen berasal dari Tiongkok. Namun ditegaskan Hendra, data ini bukan berarti penjahat siber tersebut berada di AS atau Tiongkok. Bisa saja hanya menggunakan infrastruktur yang ada dari kedua negara tersebut untuk menyerang negara-negara di kawasan Asia Pasifik.

Untuk serangan secara global, dari triliunan log dan milyaran serangan, penelitian ini juga mengungkapkan berbagai jenis serangan yang paling umum, yaitu serangan web yang memiliki peningkatan frekuensi sebanyak dua kali lipat sejak 2017 dan terhitung 32 persen dari semua serangan yang terdeteksi tahun lalu. Kemudian, dilanjutkan dengan pengintaian (16 persen) dan diikuti berikutnya serangan khusus layanan (13 persen) dan peretasan kata sandi atau password (12 persen).



Sumber: BeritaSatu.com