Teknologi Kecerdasan Buatan, Peluang atau Ancaman?

Teknologi Kecerdasan Buatan, Peluang atau Ancaman?
Senior Manager Business Development Qualcomm Technologies Indonesia, Dominikus Susanto menjadi pembicara di acara Snapdragon Academy 3.0, di Jakarta, 28 Juni 2019. ( Foto: Beritasatu Photo / Herman )
Herman / FER Jumat, 28 Juni 2019 | 20:40 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan di era Industri 4.0, sudah hadir di berbagai lini kehidupan. Terminologi AI merujuk pada serangkaian sistem komputer yang memungkinkan mesin untuk meniru kecerdasan manusia. Kemampuan inilah yang membuat sebagian kalangan menganggap kalau AI bisa menjadi ancaman baru bagi manusia, terutama di dunia kerja. Akan ada banyak lapangan pekerjaan yang hilang karena sudah bisa ditangani dengan AI.

Senior Manager Business Development Qualcomm Technologies Indonesia, Dominikus Susanto menyampaikan, anggapan kalau AI bisa menjadi ancaman baru tidak sepenuhnya benar. Justru kehadiran AI banyak memudahkan kerja manusia. Misalnya saja seorang dokter yang menggunakan teknologi AI untuk mendiagnosa keluhan penyakit pasiennya, atau seorang mekanik yang menggunakan teknologi AI untuk mengetahui sumber kerusakan komponen hanya dari suara mesin.

"AI bukanlah sebuah ancaman, tetapi justru banyak membantu pekerjaan manusia. Kerja seorang dokter atau mekanik menjadi lebih cepat dengan bantuan teknologi ini. Tetapi, untuk eksekusi akhirnya, tenaga mereka tetap yang paling dibutuhkan. AI hanya membantu diagnosa awal saja,” kata Dominikus Susanto, di acara Snapdragon Academy 3.0, di Jakarta, Jumat (28/6/2019).

Meskipun ada beberapa pekerjaan yang diambil alih oleh AI, menurut Dominikus justru era AI dan juga Internet of Things (IoT) banyak menciptakan peluang kerja baru. Hal ini juga terjadi ketika dimulainya Industri 3.0 yang menjadi awal kemunculan komputer.

Agar tidak menjadi bagian dari orang yang tergerus perkembangan teknologi, Domunikus mengingatkan untuk selalu meng-update keahlian sesuai dengan tren atau revolusi industri yang terjadi.

"Di era Revolusi Industri 3.0, perhitungan yang sebelumnya dilakukan manual digantikan oleh komputer, sehingga membuat pekerjaan jadi lebih mudah dan cepat. Perubahan tersebut pada saat itu juga menimbulkan banyak pekerjaan baru. Misalnya saja developer aplikasi, penyedia jasa internet, teknisi, dan banyak lagi. Jadi setiap ada revolusi industri akan lahir industri baru. Ada yang hilang, tetapi akan muncul yang baru. Begitu juga di era Industri 4.0. Dengan adanya AI dan konektivitas, akan muncul lagi beberapa lapangan pekerjaan baru. Misalnya penyedia jasa yang membuat aplikasi untuk smart home, atau layanan pendidikan jarak jauh," ujar Domunikus.

Meskipun kelihatannya sudah sangat canggih, Dominikus mengatakan, teknologi AI yang ada saat ini sebetulnya masih dangkal dan lemah. Artinya, ke depan teknologi AI ini masih akan terus berkembang untuk lebih membantu memudahkan kerja manusia.

"AI yang ada sekarang ini masih narrow AI. Baru untuk tugas-tugs khusus atau spesial, tidak bisa satu aplikasi untuk semua. Misalnya yang dibenamkan di kamera, kemampuannya hanya untuk membantu fungsi fotografi saja. Jadi belum pada tahap strong AI seperti yang ada di film-film, yang benar-benar bisa berfikir dan mempunyai perasaan sendiri. Suatu saat nanti mungkin kita akan sampai pada tahap strong AI," ujar Dominikus.



Sumber: BeritaSatu.com