Pemerintah Ingin Ada Produk Riset Indonesia yang Mendunia

Pemerintah Ingin Ada Produk Riset Indonesia yang Mendunia
Presiden Joko Widodo menjajal motor listrik buatan dalam negeri Gesits seusai melakukan audiensi dengan pihak-pihak yang terlibat proses produksi di halaman tengah Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (7/11/2018). Audiensi tersebut membahas persiapan produksi massal sepeda motor listrik Gesits. ( Foto: Antara / Wahyu Putro A )
Ari Supriyanti Rikin / HA Kamis, 18 Juli 2019 | 02:33 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Saat ini, Indonesia belum memiliki produk unggulan (brand nasional) yang mendunia. Pemerintah pun menggenjot dan mencari prouduk riset inovasi yang berpeluang menjadi brand nasional Indonesia.

Saat ini ada 45 riset yang sudah masuk dalam rencana pembangunan jangka menengah nasional dan mendapat komitmen dari dunia industri. Sedangkan enam riset lainnya belum mendapat komitmen dari industri.

Terkait hal itu, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) akan menggelar National Expo for Science and Technology (NEST) 2019 pada 12-14 September di Jakarta Convention Center.

NEST akan menampilkan 45+6 riset inovasi tersebut agar publik mengetahui perkembangannya. Acara ini juga sekaligus menjaring masukan dari publik terhadap riset inovasi tersebut.

Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan Kemristekdikti Muhammad Dimyati mengatakan, sampai saat ini Indonesia belum punya produk hasil riset yang mendunia.

"Kalau berbicara merek ponsel, seperti Samsung misalnya, kita langsung tahu produk itu hasil riset Korea," katanya di Jakarta, Rabu (17/7/2019).

Dimyati menambahkan, produk ponsel tersebut dihasilkan dari hasil kerja bersama para peneliti, bukan riset individual.

"Tidak ada produk yang mendunia yang dihasilkan satu peneliti tapi hasil sinergi," ucapnya.

Saat ini Indonesia mulai memperkenalkan motor listrik Gesits namun masih dalam penyempurnaan untuk menjadi brand nasional. Sebelumnya, Indonesia berhasil membuat pesawat N250, namun kini tidak ada kabarnya lagi.

Dimyati mengungkap, belum adanya hasil riset yang mendunia di Indonesia karena ada keterbatasan dalam berbagai hal seperti sumber daya, tumpang tindih riset, pendanaan riset yang belum sesuai dan belum adanya sinergi antarpeneliti.

Kelahiran Undang-Undang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Sisnas Iptek) pun diharapkan menjadi daya ungkit sinergi riset, anggaran sehingga muncul banyak calon produk inovasi berbendera Indonesia. Kontribusi swasta dalam pendanaan riset juga didorong dengan adanya pengurangan pajak (tax deduction) mencapai 300 persen, jika mau mengalokasikan dana untuk riset kolaboratif.



Sumber: Suara Pembaruan