Ekonomi Digital Indonesia Tembus $ 27 M, Virtus Siap Dukung

Ekonomi Digital Indonesia Tembus $ 27 M, Virtus Siap Dukung
Direktur PT Virtus Technology Indonesia Christian Atmadjaja. ( Foto: Beritasatu / Heru Andriyanto )
Heru Andriyanto / HA Kamis, 15 Agustus 2019 | 19:17 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Perusahaan penyedia solusi infrastruktur teknologi informasi (TI), Virtus Technology Indonesia, siap membantu program pemerintah untuk mengembangkan perekonomian digital, karena potensi yang dimiliki bangsa ini sangat besar.

Direktur Virtus Christian Atmadjaja mengatakan 4% dari produk domestik bruto Indonesia berasal dari layanan digital seperti mobility, cloud computing, internet of things, dan artificial intelligence.

"Indonesia saat ini menjadi perhatian bagi pelaku usaha dunia sebagai salah satu negara yang serius dalam mengembangkan perekonomian digital, sehingga perkembangan teknologi di negara kita harus terus menerus kita pacu," kata Christian di sela acara Virtus Showcase di Hotel Mulia, Jakarta, Kamis (15/8/2019).

Acara tahunan yang digelar sejak 2013 tersebut mempertemukan para pelaku usaha TI dengan pengguna, dan kali ini mengambil tema "Impact of Trade War on the Adoption of Industry 4.0".

Christian mengimbau agar perang dagang saat ini tidak mengganggu fokus Indonesia dalam melakukan transformasi digital sesuai tuntutan zaman.

"Berdasarkan riset Google dan Temasek, pasar ekonomi digital di Indonesia mencapai US$ 27 miliar dan berpotensi meningkat menjadi US$ 100 miliar pada 2025," ujarnya.

Selain itu, dari investasi asing yang masuk antara US$ 20-25 miliar, sekitar 10% disumbang oleh sektor ekonomi digital.

Ditemui usai acara, Christian mengatakan secara umum perang dagang tidak berdampak signifikan pada industri TI di Indonesia. Kalau pun ada, itu adalah gangguan pasokan yang sifatnya terbatas.

"Seperti kita ketahui, ban (larangan impor yang ditetapkan Amerika) menyebabkan suplai beberapa barang dari China terhambat. Pada saat suplai komponen disetop, barangnya tidak available," kata Christian.

"Impact-nya ke Indonesia jelas sudah ada karena beberapa pengadaan yang sudah jalan tiba-tiba barang dari China tersebut nggak bisa deliver, sehingga tender mesti diulang. Untungnya saat ini suplai sudah mulai berangsur normal."

Selain itu, sejak tiga pekan lalu larangan impor komponen Tiongkok sudah dicabut sehingga pasokan kembali normal.

"Beberapa industri IT di China sudah mulai mempercepat R and D-nya, jadi mereka sudah mengembangkan chip set sendiri untuk less dependent ke pihak luar," kata Christian.

Meskipun bisnis Virtus juga mencakup jual beli ke banyak negara, pelemahan nilai tukar yuan yang menjadi buntut perang dagang ini menurut Christian juga tidak berdampak pada industrinya.

"Belum terasa, harga-harga di Indonesia belum ada impact dari currency war ini," kata Christian.

"Virtus sebagai distributor produk-produk IT dari berbagai negara, mulai Amerika, Inggris, termasuk China, Polandia, Singapura, kalau dilihat kita masih bisa memberi advise tergantung strategi customer apa ke depan, apakah untuk solusi security, solusi network atau solusi data center. So far kita masih on track. Meskipun transaksi ada yang pakai dolar, tapi kebanyakan pakai rupiah."

Namun dia juga menegaskan bahwa industri TI sangat membutuhkan kestabilan makro, karena barang atau jasa yang diperdagangkan sangat time sensitive.

"Saat fluktuasi harga rupiahnya akan berubah, akan masalah kalau produknya itu baru sebulan kemudin selesai, jadi fluktuasi itu problem juga," akunya.



Sumber: BeritaSatu.com