Sistem Keamanan Siber di Indonesia Dinilai Masih Rentan

Sistem Keamanan Siber di Indonesia Dinilai Masih Rentan
Micro Focus Software, sebagai salah satu perusahaan global di bidang Keamanan Sistem Informasi, menyelenggarakan acara Customer Gathering bertajuk “Cyber Security Threat Monitoring (CSTM) Berbasis ArcSight SIEM” sebagai bentuk dukungannya dalam meningkatkan digital security di Indonesia. ( Foto: Beritasatu Photo / Istimewa )
Indah Handayani / FER Selasa, 17 September 2019 | 17:29 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Faktor keamanan digital (digital security) menjadi persoalan penting yang dihadapi Indonesia. Sepanjang tahun 2018, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat ada 225,9 juta serangan siber yang terjadi di Indonesia. Sebanyak 40 persen diantaranya masuk ke dalam kategori serangan malware.

Menurut Communication & Information System Security Research Center (CISSRec), serangan digital ini telah merugikan ekonomi Indonesia hingga Rp 400 triliun. Sebagai negara yang saat ini sedang berkembang pesat dalam ekonomi digital, persoalan ini perlu diselesaikan agar perkembangan ekonomi digital Indonesia dapat tumbuh secara optimal.

Team Leader PT Virtus Technology Indonesia (VTI), Sry Aprina mengatakan, perkembangan teknologi digital saat ini membuat lanskap teknologi informasi (TI) secara keseluruhan menjadi semakin kompleks. Untuk itu, Micro Focus Software, sebagai salah satu perusahaan global di bidang keamanan sistem informasi, menggelar customer gathering bertajuk Cyber Security Threat Monitoring (CSTM) Berbasis ArcSight SIEM sebagai bentuk dukungannya dalam meningkatkan digital security di Indonesia.

"Kompleksitas ini tentu menjadi tantangan tersendiri untuk para pelaku bisnis di bidang TI di Indonesia," ungkap Sry dalam keterangan persnya, Selasa (17/9/2019).

Partner Business Strategist South East Asia - Micro Focus, Ong Tee Kok, berharap, event ini dapat memberikan kontribusi dalam mewujudkan keamanan siber bagi masyarakat demi tercapainya kemandirian keamanan siber di Indonesia.

"Salah satu tantangan dalam pembangunan solusi CSTM adalah nilai investasi yang cukup besar pada pengadaan teknologi, pembangunan proses operasional yang optimal, serta pengadaan sumber daya manusia untuk mengoperasikannya," papar Tee Kok.

Tee Kok mengatakan, seringkali kendala keterbatasan kemampuan sumber daya manusia di internal perusahaan menyebabkan CSTM tidak dapat dioperasikan secara secara maksimal. "Namun hal ini bisa diatasi dengan platform CSTM yang disediakan oleh KPI," kata Tee Kok.

Chief Technology Officer (CTO) KPI, Paulus Tamba, menambahkan tidak hanya mudah untuk diaplikasikan, sistem layanan berlangganan (subscription based) yang disediakan pihaknya memungkinkan pengguna untuk mengeluarkan modal lebih murah dan langsung menyediakan hasil laporan terjadwal dan situasional atas infrastruktur bisnis yang dijalankan oleh pengguna.

"Tim teknis KPI juga akan senantiasa menyediakan jasa konsultasi kepada pengguna mengenai rekomendasi kondisi keamanan siber yang dilaporkan," pungkas Paul Tamba.



Sumber: Investor Daily