Ternyata, Kaum Hawa Mendominasi Belanja Online

Ternyata, Kaum Hawa Mendominasi Belanja Online
Diskusi santai bertajuk "Kontribusi e-Commerce pada Pertumbuhan Ekonomi" yang digagas oleh Tempo melibatkan pembicara Ekonom INDEF Bhima Yudhistira, ekretaris Deputi Bidang Pembiayaan dan Kementerian Koperasi dan UKM Sutarjo, di Jakarta, pekan lalu. ( Foto: istimewa )
Elvira Anna Siahaan / EAS Senin, 23 September 2019 | 05:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Era revolusi industri 4.0 telah mengubah perilaku masyarakat dalam berbelanja. Pola konsumsi konvensional–pembeli dan penjual bertransaksi tatap muka mulai bergeser kepada cara yang lebih praktis dan cepat. Salah satunya, pemanfaatan Internet melalui telepon pintar.

Perilaku ini mengakibatkan menjamurnya toko-toko online, e-commerce dan marketplace. Perputaran uang lewat platform ini cukup fantastis. Bahkan tercatat, kebanyakan yang melakukan belanja online adalah kaum hawa ketimbang para pria. 

Bank Indonesia juga menyebutkan bahwa di tahun 2019 ini, jumlah transaksi e-commerce per bulannya mencapai Rp 11–13 triliun. Bahkan nilai pasar e-commerce Indonesia dinilai akan mencapai sekitar Rp 910 triliun pada 2022 (proyeksi McKinsey & Co). Bisa dikatakan, angka tersebut meningkat delapan kali lipat dibandingkan 2017 yang nilainya sekitar Rp 112 triliun.

Sementara itu hasil riset Tempo menyebutkan pengguna e-commerce di Indonesia masih di dominasi oleh perempuan. Sementara untuk daerah, Jawa masih menjadi konsentrasi kegiatan ekonomi digital. Hal ini berdasarkan survei yang dilakukan dengan responden yang didominasi usia mapan, berkisar dari 25-35 tahun.

Jika dipisah secara gender, Shopee kuat di kalangan perempuan, sedangkan Tokopedia kuat di kalangan laki-laki. Sementara itu, yang menarik, di kalangan laki-laki, Bukalapak dan Shopee memiliki perbedaan persentase yang tidak terlalu jauh. Mayoritas responden pernah melakukan pembelian di Tokopedia dan Shopee.

Menanggapi fakta tersebut, Ekonom Indef Bhima Yudhistira, dalam diskusi Ngobrol@Tempo bertajuk "Kontribusi e-Commerce pada Pertumbuhan Ekonomi", di Balai Kartini, pekan lalu, mengatakan, peran e-commerce dalam mendorong perekonomian tidak bisa dinafikan meskipun kontribusinya masih kecil.

Hasil riset Indef pada tahun 2018 menunjukkan bahwa keberadaan e-commerce mendorong pertumbuhan ekonomi sebesar 0,71 persen.

"Untuk meningkatkan kontribusi e-commerce diperlukan porsi yang lebih besar dari produk lokal, pemerataan akses dan kualitas Internet, serta penguatan sistem logistik nasional," kata Bhima.

Sedangkan Sekretaris Deputi Bidang Pembiayaan, Kementerian Koperasi dan UKM Sutarjo mengatakan, permasalahan utama era perdagangan bebas dan era revolusi industri 4.0 akan berdampak terhadap ekosistem UMKM dan Koperasi.

"Masih ada tantangan besar di era 4.0, sebab sebagian besar anggota Koperasi dan UMKM (KUMKM) belum siap bersaing. Mereka masih terkendala dengan keterbatasan akses pemasaran, keterbatasan akses permodalan, perizinan usaha belum satu pintu, dan terbatasnya riset dan pengembangan produk KUMKM," tegas Sutarjo



Sumber: BeritaSatu.com