Wantiknas Dorong Percepatan Pembangunan Area 3T

Wantiknas Dorong Percepatan Pembangunan Area 3T
Konferensi pers peluncuran Meaningful Broadband Working Group (MBWG), di Jakarta, 26 September 2019. ( Foto: Beritasatu Photo / Herman )
Herman / FER Kamis, 26 September 2019 | 21:48 WIB

Jakarta, Beritasatu.Com - Untuk mengakselerasi pembangunan di daerah Terdepan, Tertinggal dan Terluar (3T), Dewan TIK Nasional (Wantiknas) sebagai lembaga multistakeholder di bawah Presiden Republik Indonesia telah membentuk sebuah kelompok kerja yang diberi nama Meaningful Broadband Working Group (MBWG).

Ketua Tim Pelaksana Wantiknas, Ilham A Habibie menjelaskan, kelompok kerja ini akan mengumpulkan sumber daya dari sektor publik dan swasta, untuk menghasilkan produk dan layanan yang berkelanjutan secara finansial. Tujuannya adalah untuk membuat pemberdayaan berbasis TIK dari 30 juta orang berpendapatan rendah di 122 daerah 3T yang selama ini tidak terjangkau kekuatan pasar.

Peserta dalam working group ini adalah eksekutif operator telekomunikasi, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Kantor Presiden, pejabat kementerian, lembaga investasi, perusahaan teknologi internasional, perusahaan teknologi nasional, dan lembaga-lembaga lain yang terkait.

"Tujuan kelompok kerja ini adalah mengupayakan bagaimana memperkuat daerah 3T yang telah terjangkau akses internet cepat (broadband) yang dibangun BAKTI (Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi). Kelompok kerja ini akan memberikan informasi kepada kementerian atau lembaga lain tentang apa saja yang bisa mereka lakukan di daerah 3T yang mempunyai dampak tertentu, sehingga perlu pendekatan multistakeholder, " kata Ilham A Habibie, di peluncuran Meaningful Broadband Working Group, Jakarta, Kamis (26/9/2019).

Landasan untuk ekosistem Meaningful Broadband adalah program dari BAKTI yang mengelola dana Universal Service Obligation (USO). Program ini khusus dirancang untuk melayani daerah yang terabaikan oleh kekuatan pasar.

Direktur Utama BAKTI, Anang Achmad Latif mengatakan, persoalan kesenjangan digital masih sangat terasa di Indonesia, terutama di kawasan Indonesia Timur. Itulah yang mendasari pembangunan jaringan Palapa Ring sebagai tulang punggung atau backbone internet di Indonesia. Kendati demikian, Palapa Ring tidak bisa menjangkau seluruh wilayah di Indonesia terutama kawasan 3T.

"Kita bisa saja membangun serat optik sampai ke desa-desa, tetapi riset kami menunjukkan biaya yang dibutuhkan mencapai Rp 150 triliun. Itulah kenapa pemerintah memutuskan untuk meluncurkan satelit multifungsi dengan kapasitas 150 Gbps yang menjangkau 150.000 lokasi di Indonesia," tandas Anang.



Sumber: BeritaSatu.com