Ancaman Serangan Fileless Meningkat 265%

Ancaman Serangan Fileless Meningkat 265%
Country Manager Trend Micro, Laksana Budiwiyono, tengah menjelaskan tentang solusi XDR Trend Micro, di Kantor Trend Micro, The Plaza Office, Jakarta Pusat, Rabu (2/10/2019). (Foto: Beritasatu Photo / Feriawan Hidayat)
Feriawan Hidayat / FER Rabu, 2 Oktober 2019 | 21:05 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Trend Micro, perusahaan penyedia solusi keamanan siber, merilis rangkuman hasil laporan di paruh tahun pertama 2019. Laporan tersebut mengungkapkan, terjadi lonjakan serangan fileless yang dirancang untuk menyamarkan aktivitas kejahatan siber. Deteksi ancaman ini meningkat 265 persen dibandingkan dengan pertengahan tahun 2018.

Baca Juga: Trend Micro Kenalkan Solusi Keamanan Endpoint

Country Manager Trend Micro Indonesia, Laksana Budiwiyono, mengatakan, temuan ini membuktikan prediksi yang dibuat Trend Micro tahun lalu terbukti benar adanya, yaitu penyerang bekerja lebih pintar untuk menargetkan bisnis dan lingkungan yang akan menghasilkan pengembalian investasi terbesar.

"Kecanggihan dan perbuatan yang dilakukan secara diam-diam adalah strategi utama dari permainan cybersecurity. Pasalnya, teknologi perusahaan dan serangan kriminal menjadi lebih terhubung dan lebih cerdas," ungkap Laksana Budiwiyono kepada Beritasatu.com, di Jakarta, Rabu (2/10/2019).

Menurut Laksana, pihaknya melihat serangan yang disengaja dan ditargetkan, yang secara diam-diam memanfaatkan orang, proses, dan teknologi. Namun, di sisi bisnis, transformasi digital dan migrasi komputasi awan atau cloud sedang memperluas dan memunculkan serangan pada perusahaan.

"Untuk menangani evolusi ini, bisnis memerlukan mitra teknologi yang dapat menggabungkan keahlian manusia dengan teknologi keamanan canggih untuk lebih mendeteksi, menghubungkan, merespons, dan memulihkan ancaman," tambah Laksana.

Baca Juga: Adware Susupi Jutaan Perangkat Android

Seiring dengan pertumbuhan ancaman fileless di pertengahan tahun ini, menurut Laksana, penyerang semakin menyebarkan ancaman yang tidak terlihat oleh filter keamanan tradisional. Sebabnya, mereka dapat dijalankan dalam memori sistem, berada di dalam sistem, atau dapat menyalahgunakan alat yang sah.

"Exploit Kits juga telah kembali, dengan peningkatan sebesar 136 persen dibandingkan dengan waktu yang sama pada tahun 2018," tambah Laksana Budiwiyono.

Laksana menambahkan, cryptomining malware tetap menjadi ancaman yang paling terdeteksi pada paruh pertama tahun 2019, dengan penyerang semakin menyebarkan ancaman ini di server dan lingkungan cloud. Dengan membenarkan prediksi lain, jumlah router yang terlibat dalam serangan masuk melonjak 64 persen dibandingkan pertengahan tahun pertama tahun 2018, dengan lebih banyak ancaman Mirai Variants yang mencari perangkat yang terbuka.

Baca Juga: Aplikasi VPN Mampu Mencuri Informasi Pengguna

Selain itu, skema pemerasan digital melonjak hingga 319 persen dari pertengahan kedua tahun 2018, yang sejalan dengan prediksi sebelumnya. Business email compromise (BEC) tetap menjadi ancaman besar, dengan melonjak 52 persen dibandingkan dengan enam bulan terakhir. File, email, dan URL yang berhubungan dengan ransomware juga tumbuh 77 persen dibandingkan periode yang sama.

Laksana menambahkan, secara total Trend Micro memblokir lebih dari 26,8 miliar ancaman di awal pertengahan tahun 2019, atau lebih dari enam miliar dari periode yang sama tahun lalu. Sebagai catatan, 91 persen dari ancaman ini memasuki jaringan perusahaan melalui email.

"Untuk mengurangi ancaman-ancaman canggih ini tentunya dibutuhkan pertahanan yang cerdas dan mendalam yang dapat mengkorelasikan data dari lintas gateway, jaringan, server, dan endpoints untuk mengidentifikasi dan menghentikan serangan terbaik," pungkas Laksana Budiwiyono.



Sumber: BeritaSatu.com