Layanan 5G, Peluang Operator Telekomuikasi Naikkan Pendapatan

Layanan 5G, Peluang Operator Telekomuikasi Naikkan Pendapatan
Managing Director ASEAN Service Provider di Cisco, Dharmesh Malhotra, ( Foto: Herman / Herman )
Herman / MPA Senin, 7 Oktober 2019 | 18:31 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com – Implementasi layanan 5G diyakini akan memberikan peluang besar bagi operator telekomunikasi dalam mengembangkan bisnisnya. Hal ini tergambar dari hasil studi kolaborasi yang dilakukan antara Cisco dan AT Kearney bertajuk 5G in ASEAN: Reigniting Growth in Enterprise and Consumer Markets.

Dalam studi ini, disebutkan bahwa peluncuran layanan 5G dapat meningkatkan pendapatan tahunan operator telekomunikasi di Indonesia sebanyak US$ 1,4 miliar sampai US$ 1,83 miliar pada 2025. Seiring dengan semakin terjangkaunya harga perangkat, jumlah langganan juga akan meningkat. Di ASEAN, total jumlah langganan layanan 5G diperkirakan mencapai lebih dari 200 juta pada 2025, di mana jumlah pelanggan tertinggi berasal dari Indonesia dengan lebih dari 100 juta pelanggan.

Studi ini juga menekankan bahwa teknologi 5G memiliki berbagai kelebihan dibanding 4G, antara lain kecepatan hingga 50 kali lebih cepat, 10 kali lebih responsif, dan daya konektivitas yang jauh lebih rendah. Berbagai hal ini tersedia berkat kombinasi dari tiga fitur yaitu high throughput, latensi yang sangat rendah, dan konektivitas daya yang juga rendah.

“Dari sisi kecepatan, teknologi 5G dapat mencapai 20 gigabyte per second. Sedangkan dari sisi latency atau bagaimana data itu bisa kembali, dari biasanya antara 40 sampai 50 millisecond, dengan 5G hanya 1 millisecond. Jadi kita bisa mendengar suara orang ketika berkomunikasi nyaris seperti realtime,” kata Managing Director ASEAN Service Provider di Cisco, Dharmesh Malhotra, di Jakarta, Senin (7/10/2019).

Peningkatan kecepatan, latensi rendah, dan konektivitas menurutnya akan membantu operator telekomunikasi dalam menyelenggarakan koneksi internet super cepat untuk streaming video berkualitas high-definition (HD), cloud gaming, serta konten interaktif berbasis augmented reality dan virtual reality (AR / VR) bagi pelanggannya. Komersialisasi dari berbagai bentuk pemanfaatan teknologi 5G juga bisa dipercepat, seperti misalnya penyelenggaraan smart cities, Industri 4.0, penyebaran Internet of Things (IoT), dan lainnya. Dengan begitu, operator telekomunikasi bisa meningkatkan pendapatannya baik dari konsumen maupun klien perusahaan.

Di tengah persiapan operator telekomunikasi untuk meluncurkan layanan 5G, studi ini menyebutkan mereka kemungkinan besar akan berinvestasi sekitar USD 10 miliar untuk pembangunan infrastruktur 5G di kawasan ini hingga tahun 2025.

“Peluncuran layanan 5G akan membutuhkan investasi besar dalam teknologi agar modernisasi jaringan bisa dilakukan. Di ASEAN, operator telekomunikasi kemungkinan akan terus berinvestasi dalam meningkatkan jaringan 4G mereka dan membangun kemampuan 5G secara bertahap. lni akan memungkinkan 4G dan 5G untuk beroperasi secara beriringan dan membantu operator mengelola capital expenditure (Capex) berikut  Return on Investment (ROI)mereka secara berkelanjutan,” kata Mallhotra.



Sumber: BeritaSatu.com