Layanan 5G Diprediksi Mulai Tersedia pada 2023

Layanan 5G Diprediksi Mulai Tersedia pada 2023
Managing Director ASEAN Service Provider di Cisco, Dharmesh Malhotra, ( Foto: Herman / Herman )
Herman / MPA Senin, 7 Oktober 2019 | 18:40 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com – Operator telekomunikasi di Indonesia saat ini mulai melakukan ujicoba teknologi 5G untuk mematangkan persiapan menggelar layanan tersebut di masa mendatang. Namun sepertinya layanan 5G belum akan dinikmati secara meluas dalam waktu dekat. Perusahaan penyedia infrastruktur jaringan, Cisco, memprediksi layanan 5G di Indonesia baru akan digelar pada 2023.

“Kami memprediksi layanan 5G di Indonesia akan dimulai pada 2023 dan semakin meluas pada 2025. Tetapi memang operator dan pelaku industri lainnya sudah mulai harus berdiksusi perihal bagaimana mempersiapkan infrastruktur yang dibutuhkan dalam penyelenggaraan 5G,” kata Managing Director ASEAN Service Provider di Cisco, Dharmesh Malhotra, di Jakarta, Senin (7/10/2019).

Hal senada juga diungkapkan CEO XL Axiata, Dian Siswarini. Saat melakukan ujicoba teknologi 5G di Jakarta baru-baru ini, Dian memperkirakan layanan 5G baru bisa digelar di Indonesia lebih dari tiga tahun lagi. Untuk mulai mengimplementasikan 5G secara komersial, menurutnya ada banyak hal yang masih harus disiapkan mulai dari fiberisasi hingga investasi spektrum.

“Untuk 5G, saat ini ekosistemnya masih belum lengkap. Perkiraan kita beyond tiga tahun dari sekarang baru bisa 5G. Untuk bisa sampai ke sana juga banyak persiapan yang harus dilakukan, salah satunya persiapan fiberisasi karena jaringan transmisi sangat diperlukan untuk 5G. Kemudian kita siapkan bisnis modelnya, use case apa yang bisa kita berikan ke customer, baik B2B maupun ritel. Juga yang paling penting mempersiapkan spektrum karena ini investasi yang mahal,” kata Dian.

Dari hasil studi kolaborasi yang dilakukan antara Cisco dan AT Kearney bertajuk 5G in ASEAN: Reigniting Growth in Enterprise and Consumer Markets, peluncuran layanan 5G diperkirakan dapat meningkatkan pendapatan tahunan operator telekomunikasi di Indonesia sebanyak US$ 1,4 miliar sampai US$ 1,83 miliar pada 2025. Seiring dengan semakin terjangkaunya harga perangkat, jumlah langganan juga akan meningkat. Di ASEAN, total jumlah langganan layanan 5G diperkirakan mencapai lebih dari 200 juta pada 2025, di mana jumlah pelanggan tertinggi berasal dari Indonesia dengan lebih dari 100 juta pelanggan.

Studi ini juga memaparkan tantangan besar dalam implementasi 5G. Antara lain terbatasnya ketersediaan spektrum untuk implementasi layanan 5G serta jaringan suboptimal yang dihasilkan. Implementasi layanan 5G akan dilakukan pada sejumlah band, dengan kebutuhan secara global setidaknya bisa dipenuhi melalui ketersediaan tiga band dalam waktu dekat yaitu low band (700 MHz), mid-band (3,5 to 4,2 MHz), dan high-band pada spektrum mmWave (24 hingga 28 6H2). Di ASEAN, banyak dari band-band ini telah digunakan untuk layanan lain. Low band misalnya digunakan untuk FTA TV, dan mid-band digunakan untuk layanan satelit. Meskipun tersedia mmWave, penyebarannya perlu dikombinasikan dengan spektrum low band untuk memungkinkan cakupan wilayah pinggiran kota dan pedesaan yang layak secara ekonomi serta akses dalam gedung.

Studi ini juga mengingatkan agar operator perlu berhati-hati dalam membangun produk 5G mereka dan menetapkan harga untuk portofolionya di tengah upaya migrasi pelanggan ke jaringan berkecepatan tinggi. Berbeda dengan teknologi 3G dan 4G, pelanggan akan menyambut baik ketersediaan layanan 5G dan bersedia membayar untuk kualitas yang Iebih baik. Akan fatal bagi operator untuk terlibat dalam perang harga hanya untuk menarik lebih banyak pelanggan dengan harapan bisa membebankan biaya lebih banyak kepada mereka pada tahapan berikutnya.



Sumber: BeritaSatu.com