SEC Hentikan Initial Coin Offering Telegram

SEC Hentikan Initial Coin Offering Telegram
Telegram akan meluncurkan mata uang digital melalui Tokenomy. ( Foto: Beritasatu Photo / Istimewa )
/ FER Minggu, 13 Oktober 2019 | 15:31 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Otoritas Amerika Serikat (AS) telah menghentikan penawaran umum perdana (Initial Coin Offering/ICO) token digital senilai US$ 1,7 miliar yang tidak terdaftar oleh layanan pesan Telegram dan anak perusahaanya Telegram Open Network (TON).

Baca Juga: Telegram Akan Luncurkan Mata Uang Digital

Telegram Open Network (TON) sendiri merupakan proyek jaringan blockchain yang dirancang dengan cepat, aman, terukur dan mampu menangani jutaan transaksi per detik.

Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) mengatakan, telah menerima perintah penahanan sementara terhadap dua perusahaan tersebut, yang menurut regulator, menjual 2,9 miliar token digital yang dinamai Gram itu kepada investor awal secara global, termasuk 1 miliar kepada pembeli AS.

SEC telah menetapkan bahwa penawaran umum perdana (ICO) adalah penawaran sekuritas, dan karenanya harus tunduk pada aturan penawaran SEC, yang mengharuskan perusahaan untuk mengajukan pendaftaran dan pengungkapan dokumen.

Baca Juga: Tiongkok Siapkan Aturan Larang Penambangan Bitcoin

"Tindakan darurat ini dimaksudkan untuk mencegah Telegram membanjiri pasar AS dengan token digital yang kami duga dijual secara tidak sah," kata co-director Enforcement Division SEC, Stephanie Avakian, dikutip dari Reuters, Minggu (13/10/2019).

Menurut SEC, Telegram berjanji memberikan koin kepada pembeli ketika meluncurkan sistem pencatatan transaksi digitalnya, atau biasa disebut blockchain, pada 31 Oktober. Pada saat itu perusahaan dan pembeli akan dapat menjualnya di pasar AS.



Sumber: Reuters, Antara