Dewi Malia Prawiradilaga

Burung Jadi Penyeimbang Ekosistem dan Deteksi Bencana

Burung Jadi Penyeimbang Ekosistem dan Deteksi Bencana
Dewi Malia Prawiradilaga baru saja dikukuhkan sebagai profesor riset oleh LIPI, Rabu 4 November 2019. ( Foto: istimewa )
Ari Supriyanti Rikin / EAS Kamis, 5 Desember 2019 | 14:20 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Burung hingga saat ini masih menjadi salah satu satwa yang paling menarik untuk publik karena indah dan karismatik. Makhluk hidup ini memiliki bulu yang menjadi ciri khas dan tidak dimiliki oleh makhluk hidup lain yang ada di dunia ini.

Sejak dahulu daging dan telur burung liar juga telah dikonsumsi oleh masyarakat berbagai suku sebagai sumber protein hewani, bahkan sarang burung walet pun dijadikan hidangan sup bergengsi. Selain itu, burung dapat menjadi inspirasi karya seni, inspirasi lambang negara, motif pakaian, topi atau perhiasan dan dipelihara dalam sangkar untuk hobi.

Dalam konteks konservasi, beberapa jenis burung juga masuk daftar dilindungi dari ancaman kepunahan. Sayangnya, kini status populasi burung Indonesia memprihatinkan bahkan mengarah pada status sangat kritis. Melihat fakta menyedihkan tersebut, profesor riset Dewi Malia Prawiradilaga, wanita kelahiran Jawa Barat 3 Januari 1955, dikenal dengan sebutan Dewi Burung.

Dewi melakukan penelitian yang mendalam seputar status burung di Indonesia. Bahkan ia berhasil meraih gelar Doctor of Philosophy dalam bidang ilmu ekologi dari Australian National University, Australia tahun 1997. Ia pun dikukuhkan menjadi profesor riset di Jakarta, Rabu (4/12/2019).

"Jumlah jenis burung di Indonesia pada tahun 2019 adalah 1.711 jenis. Sebagian di antaranya adalah burung yang khas, tidak terdapat di wilayah geografis lainnya atau dalam istilah ilmiah disebut endemik,”kata Dewi dalam orasi ilmiah berjudul Keragaman dan Strategi Konservasi Burung Endemik Indonesia.

Dewi menjelaskan, tahun 2017 jumlah burung endemik di Indonesia mencapai 397 jenis, tetapi pada tahun 2019 hasil jumlahnya meningkat menjadi 510 jenis. Walaupun terjadi peningkatan, status populasi burung memburuk disebabkan tekanan lingkungan dari aktivitas manusia yang terus meningkat melampaui upaya konservasi, khususnya burung endemik.

Hal ini mengakibatkan beberapa jenis burung terancam punah. Oleh karena itu, strategi konservasi burung berbasis taksonomi dan bioekologi, khususnya burung endemik di Indonesia sangat diperlukan.

Jumlah jenis burung di wilayah Indonesia menempati urutan keempat di dunia setelah Kolombia, Peru, dan Brasil. Sekitar 16% dari total jenis burung yang ada di dunia yaitu 10.711 jenis tercatat di wilayah Indonesia. Bahkan untuk jumlah jenis burung
endemik Indonesia tergolong tinggi. Hal ini karena Indonesia memiliki keragaman ekosistem.

Selain itu populasi 22 jenis burung endemik telah dikategorikan kritis dan 27 jenis dinyatakan terancam punah oleh International Union for the Conservation of Nature (IUCN) pada tahun 2019. Berdasarkan peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Nomor 106 Tahun 2018, juga telah menetapkan perlindungan untuk 184 jenis burung endemik (34%) dari 557 jenis burung yang dilindungi.

"Pengetahuan mengenai burung endemik merupakan dasar dalam mengetahui dan memahami salah satu kekayaan keragaman hayati yang kita miliki,” ucapnya.

Jenis Baru
Saat ini sebagian besar keanekaragaman jenis burung endemik Indonesia sudah diketahui dalam ilmu pengetahuan. Namun peluang untuk menemukan jenis baru dan pembenahan status jenis yang meragukan masih terbuka terutama di
region Wallacea dan Papua, khususnya di lokasi-lokasi yang belum terjelajahi. Padahal kombinasi iptek untuk akurasi jenis dengan karakter morfologi, perilaku, dan genomik (DNA) menjadi sangat penting dan mendesak.

"Tanda-tanda yang diberikan satwa ini harus terus kita pelajari," ujarnya.

Burung juga menjadi elemen penting dalam rantai makanan dan ekosistem. Merebaknya serangan ulat bulu di beberapa lokasi di Jawa juga menandakan ekosistem burung pemangsa ulat berkurang. Padahal burung menjadi penyeimbang ekosistem alam. Perannya di alam bagi burung penebar biji juga menjadi penting untuk meningkatkan jumlah vegetasi dan tutupan hijau di alam.

Dalam kesempatan itu, Kepala LIPI Laksana Tri Handoko mengingatkan profesor riset untuk bisa menularkan semangat meneliti ke peneliti-peneliti muda. Hal ini menjadi tanggung jawab yang diemban ketika peneliti ahli utama menyandang gelar profesor riset.

Ia mengatakan, gelar profesor riset merupakan jenjang tertinggi jabatan fungsional peneliti. Profesor riset adalah gelar bagi peneliti ahli utama di jenjang apa pun.

"Gelar ini sayangnya tidak memberikan privilege atau tidak diberikan apa pun pada mereka. Profesor riset justru tanggung jawab yang besar bagi para penerusnya," kata Tri Handoko.

Selain Dewi Burung, LIPI juga mengukuhkan tiga profesor riset lainnya yakni Teguh Peristiwady dari Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Wahyu Widiyono dari Pusat Penelitian Biologi LIPI dan Euis Hermiati dari Pusat Penelitian Biomaterial LIPI.

Ketua Majelis pengukuhan profesor riset Bambang Subiyanto menyebut, keempat profesor riset yang baru saja dikukuhkan itu secara nasional merupakan profesor riset ke-543, 544, 545 dan 546 dari 8.709 peneliti di seluruh Indonesia. Sedangkan secara institusi di LIPI menjadi profesor riset ke-135, 136, 137 dan 138 dari 1.383 peneliti di lingkungan LIPI.



Sumber: Suara Pembaruan