Pangkas Birokrasi, Penerapan Teknologi AI Juga Tingkatkan Kinerja ASN

Pangkas Birokrasi, Penerapan Teknologi AI Juga Tingkatkan Kinerja ASN
Praktisi dan konsultan teknologi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI), Nazim Machresa. (Foto: istimewa)
Chairul Fikri / CAH Minggu, 8 Desember 2019 | 12:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Penerapan teknologi Artificial Intelegence (AI) pada sistem kerja administrasi pemerintahan diyakini sangat menolong dalam hal efektivitas, efisiensi waktu dan biaya, serta transparansi dan ketepatan kebijakan sehingga memberikan kepastian pelayanan kepada masyarakat. Praktisi dan konsultan teknologi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI), Nazim Machresa mengatakan kurang adilnya proses verifikasi atau persetujuan perizinan hingga terjadinya pungutan liar dapat terjadi karena sebagian besar proses masih dilakukan secara manual oleh manusia yang tidak terlepas dari subjektifitas.

Segala hal memiliki aturan, seperti kondisi-kondisi tertentu untuk memperoleh atau tidak memperoleh perizinan, dapat dikunci aturan mainnya dalam sistem sehingga seluruh elemen pelaksana menjadi disiplin. Hal itu yang pastinya akan menghambat iklim investasi di Indonesia. Lantaran akan membuat para investor enggan menginvetasikan dana yang dimiliki karena panjangnya rantai birokrasi yang ada.

"Dengan penerapan AI ini, saya menilai tidak hanya sekadar untuk menghapus peran birokrasi namun sebaliknya akan menaikan kelas kinerja ASN di Indonesia," ungkap Nazim.

Ditambahkan Nazim, Adanya basis data dan rekam jejak yang tersimpan dalam sistem juga memungkinkan pengambilan kebijakan yang lebih akurat dan tepat sasaran ke depannya. Selain itu, integrasi antar lembaga dan elemen birokrasi menjadi semakin dimungkinkan sehingga mempercepat proses layanan.

Pada intinya, menurut Nazim, semua teknologi terlebih AI dibuat oleh manusia untuk menjadi sahabat manusia itu sendiri. Untuk membantu menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan klerikal sehingga waktu dan tenaga yang dimiliki manusia dapat dialokasikan untuk mengerjakan hal lain yang bernilai lebih.

"Tinggal bagaimana strategi transformasi yang mudah diterima masyarakat. Karena pada dasarnya tanpa ada kebijakan dari Pak Jokowi pun perubahan akan tetap terjadi karena perkembangan teknologi tidak akan berhenti, kebutuhan manusia juga terus meningkat. Justru itulah kebijakan ada untuk menjadikan proses transformasi tersebut berjalan baik dengan memperhatikan segala aspek," pungkasnya.

Sebagai praktisi penerapan AI yang bekerja sebagai Development Manager di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pengembangan layanan dan teknologi AI, Nazim memberikan 3 (tiga) aspek yang wajib diperhatikan disetiap proses implementasi teknologi baik pada perusahaan maupun lembaga Negara yakni People (SDM), proses, dan teknologi.

"Teknologi hanya alat bantu atau enabler dari proses yang akan dilakukan oleh SDM, jadi sama sekali bukan pesaing bagi ASN di Indonesia," tambahnya.



Sumber: BeritaSatu.com