Indonesia Miliki Tiga Faktor Penting Pendukung Blockchain

Indonesia Miliki Tiga Faktor Penting Pendukung Blockchain
Wakil Menteri Luar Negeri Mahendra Siregar. ( Foto: Beritasatu Photo / Lona Olavia )
Lona Olavia / WBP Rabu, 11 Desember 2019 | 11:59 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Teknologi blockchain diyakini akan menjadi masa depan bersamaan dengan era internet of things (IoT) dan inteligensi buatan (artificial intelegent/AI). Bahkan beberapa nama besar di industri digital seperti pendiri Alibaba Jack Ma telah meramalkan hal itu. Sayangnya sampai saat ini belum terlalu banyak senior management yang mengetahui mengenai blockchain dan manfaatnya bagi masa depan dunia usaha, khususnya di Indonesia serta regulasi pemerintah Indonesia berkaitan teknologi blockchain.

Wakil Menteri Luar Negeri Mahendra Siregar mengatakan, Indonesia punya tiga faktor besar yang dapat membuat penerapan blockchain sukses. Pertama, penduduk muda, dimana rata-rata usia penduduk Indonesia saat ini 28 tahun- 29 tahun. "Berbeda dengan negara maju dan Tiongkok yang mengarah ke aging population (penduduk tua), sedangkan Indonesia akan menikmati bonus demografi 15 tahun lalu," kata Mahendra Siregar dalam edukasi serial "Let’s Talk Blockchain” yang digelar BLOCK1ND, Kedutaan Besar Republik Indonesia di Beijing, Tiongkok dan Valdo Media Communication di Jakarta, Rabu (11/12/2019).

Kedua, penduduk Indonesia melek teknologi dan mengedepankan online solution. Indonesia juga masuk enam besar penggunaan smartphone di dunia. Ketiga, Indonesia punya sistem demokrasi di mana tanpa demokrasi, teknologi yang sifatnya disruptif tidak bisa mendapatkan hasil baik.

"Ini seringkali tidak dipandang sebagai faktor penting. Padahal Indonesia unik, Pemilu April lalu diikuti oleh 80 persen pemilih dan ini secara resmi merupakan the largest presidential democracy in the world, lebih besar ketimbang Amerika Serikat yang hanya diikuti oleh 60 persen. Persoalannya sekarang bagaimana bangun ekosistem yang baik, supaya ketiga faktor tadi jadi optimal,"ujar Mahendra Siregar.

Lebih lanjut, Mahendra mengatakan, blockchain di Indonesia dapat digunakan di sektor keuangan dan pasar modal, seperti penerapan di Australia dan Tiongkok. "Blockchain transparan dan efisien, walaupun interaksinya banyak, tapi semuanya tercatat baik. Jadi saat ingin lihat transaksi kembali menjadi lebih teruji daripada yang manual," tambah Mahendra Siregar.

Direktur Telekomunikasi Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) Firmansyah Lubis menambahkan, selaku regulator, pemerintah tengah menyiapkan beberapa hal untuk mendukung penerapan blockchain di Indonesia. Misalnya, mengutamakan konektivitas internet dan jaringan 5G, mendorong security operational yang andal, dan menjalin kolaborasi dengan blockchain lokal dan internasional. "Kita harap ada sinergitas untuk blockchain. Tidak perlu banyak platform tapi sinergi," imbuh Firmansyah Lubis.

Sementara Co-Founder Global Blockchain Shanghai Sam Lee tak memungkiri, ketika mendengar istilah blockchain, pasti terasa asing bagi orang umum. Namun begitu mendengar kata Bitcoin, tentu orang akan langsung mengerti. "Bahkan sejumlah orang mengaitkan keduanya padahal Bitcoin tak melulu harus berhubungan dengan blockhain, dan blockhain semata-mata bukanlah Bitcoin," pungkas Sam Lee.

Seperti diketahui, kemajuan teknologi blockchain tidak pernah secepat yang terjadi saat ini. Semua kehidupan berubah sejak terjadinya invasi platform digital yang telah mencapai hampir di setiap aspek kehidupan, dari profesional ke bidang yang sangat pribadi. Dalam dekade terakhir ini, platform digital blockchain baru diperkenalkan, disosialisasikan dan bahkan menjadi perbincangan utama di banyak negara.

Blockchain merupakan sistem yang terdesentralisasi dan terdistribusi pada semua komputer pengguna yang terkoneksi jaringan. Artinya, catatan transaksi yang sudah terjadi pada sistem tersebut bisa dilihat dan dikelola oleh semua orang, namun tidak bisa diubah sama sekali. Catatan tersebut akan bersifat kekal dan tidak bisa dipalsukan, karena pengelola ledger (buku besar catatan transaksi) blockchain bukan hanya 1 server saja, namun seluruh pemegang akun pada sistem blockchain memiliki ledger yang sama. Blockchain termasuk fondasi teknologi yang memungkinkan perkembangan cryptocurrency (mata uang kripto).

Manfaat blockchain tak hanya itu. Bahkan, pemahaman akan blockchain dapat memperluas wawasan dan mengasah keterampilan bisnis.

Sederhananya, blockchain adalah rekaman buku besar yang terdesentralisasi, memeriksa dan memverifikasi setiap proses penarikan, pembayaran, dan perdagangan dalam batas-batasnya. Untuk bisnis, spektrumnya cukup luas, dari penggunaan kemampuan blockchain untuk mencapai konsensus terpencil hingga otonom antara pengguna. Teknologi ini dapat membantu meningkatkan produktivitas dan keamanan transaksional, mengurangi biaya keseluruhan dan bahkan mengurangi potensi jeda atau waktu henti jika ada dalam rantai pasok.

Di tempat yang sama, Duta Besar RI untuk Tiongkok Djauhari Oratmangun menambahkan, untuk menjembatani penyebaran pemahaman teknologi blockchain kepada pelaku-pelaku bisnis di Indonesia langsung dari pakar blockchain yang telah mengimplementasikan teknologi blockchain ini sejak tahun 2009 lalu, maka di tahun 2020, forum blockchain internasional akan diselenggarakan di Bali, bersamaan dengan pengembangan Pusat Teknologi Blockchain di Jakarta. "Sehingga memungkinkan orang untuk mempelajari lebih lanjut tentang teknologi blockchain ini,” kata Djauhari Oratmangun.



Sumber: Suara Pembaruan