TMC, Upaya Intervensi Awan dengan Sentuhan Teknologi

TMC, Upaya Intervensi Awan dengan Sentuhan Teknologi
Ilustrasi hujan. ( Foto: Antara / Nova Wahyudi )
Ari Supriyanti Rikin / WBP Sabtu, 11 Januari 2020 | 09:58 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Lebih dari 10 tahun terakhir, teknologi modifikasi cuaca (TMC) membuat publik membuka mata betapa berharga penemuan teknologi ini di tengah ketidakpastian iklim dan cuaca.

TMC adalah usaha campur tangan manusia dalam pengendalian sumber daya air (SDA) di atmosfer untuk menambah atau mengurangi curah hujan pada daerah tertentu guna meminimalkan bencana alam yang disebabkan iklim dengan memanfaatkan parameter cuaca.

Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Tri Handoko Seto mengatakan, TMC adalah suatu bentuk upaya manusia memodifikasi cuaca dengan tujuan tertentu agar mendapatkan kondisi cuaca seperti yang diinginkan. "Disebut sebagai suatu teknologi karena aktivitas memodifikasi cuaca pada dasarnya merupakan suatu aplikasi yang memerlukan sentuhan teknologi dalam prosesnya," kata Tri Handoko Seto di Jakarta, Sabtu (11/1/2020).

Hasil akhir upaya memodifikasi cuaca tersebut untuk meningkatkan intensitas curah hujan di suatu tempat (rain enhancement). Meski untuk tujuan tertentu dapat juga dikondisikan sebaliknya, yaitu untuk menurunkan intensitas curah hujan di suatu lokasi tertentu (rain reduction).

Dalam konteks pemanasan global (global warming) yang mengakibatkan perubahan iklim (climate change), TMC menjadi solusi yang diandalkan untuk mereduksi kerugian yang ditimbulkan bencana.

Tidak hanya di Indonesia, banyak negara di dunia memanfaatkan teknologi ini untuk mitigasi bencana. Di negara barat, khususnya di negara pada daerah lintang tinggi, aktivitas modifikasi cuaca bertujuan mereduksi badai es (hail suppression).

Seto menjelaskan, di Indonesia sejarah TMC dimulai di tahun 1977 atas gagasan mantan Presiden Soeharto yang menginginkan hujan buatan untuk mendukung sektor pertanian di Indonesia.

"Beliau ingin mencontoh keberhasilan sektor pertanian di Thailand, salah satu negara tetangga Indonesia, yang melakukan aktivitas hujan buatan untuk mendukung kebutuhan air untuk sektor pertaniannya," ucap Tri Handoko Seto.

Gagasan tersebut direspon BJ Habibie yang saat itu menjabat selaku Penasihat Presiden Bidang Teknologi dengan melakukan proyek percobaan hujan buatan pada tahun 1977 di Bogor, Sukabumi dan Solo di bawah asistensi Prof Devakul dari Royal Rainmaking Thailand.

Awalnya pada periode tahun 1976-1978 hujan buatan masih berada di Direktorat Agronomi Divisi Advanced Technology Pertamina dan kegiatannya masih bersifat percobaan. Hingga saat ini TMC berada di bawah Balai Besar TMC BPPT.

Seto mengungkapkan, jumlah kegiatan TMC di Indonesia dari tahun 1979- Desember 2018 sudah banyak dengan berbagai tujuan. Untuk mengairi irigasi TMC sudah dilakukan 36 kali, Pembangkit listrik tenaga air (PLTA) 44, irigasi dan PLTA 24, kebakaran hutan dan lahan 40, mitigasi banjir 5, pengurangan curah hujan di area tambang dan proyek 2, acara kenegaraan dan pengamanan infrastruktur nasional 11 kali. Termasuk saat itu pengamanan Asian Games 2018 dimana Indonesia menjadi tuan rumahnya.

Bahkan jauh sebelumnya, TMC telah dimanfaatkan untuk mitigasi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sejak tahun 1997/1998. Saat itu karhutla hebat juga terjadi di Indonesia. Selain itu di tahun 2013, TMC juga membantu upaya redistribusi hujan saat banjir melanda ibu kota di awal tahun.

Seto menambahkan, pascakarhutla 2015, TMC juga intens berperan dalam penanganan dan pencegahan karhutla. Tahun 2019 operasi TMC dilakukan untuk penanggulangan karhutla serentak di lima provinsi.

Meski dalam kondisi kemarau, BBTMC BPPT mencatat hasil operasi TMC mampu menggelontorkan air hujan dalam jumlah banyak. Total curah hujan di Kalimantan Tengah sebanyak 1,39 miliar meter kubik, Kalimantan Barat 1,9 miliar meter kubik, Provinsi Riau dan Jambi 1,56 miliar meter kubik, Sumatera Selatan dan Jambi 436 juta meter kubik.

Intervensi Awan
Kepala Bidang Penerapan TMC Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca BPPT Budi Harsoyo menjelaskan, pada prinsipnya, TMC bukan proses membuat hujan. Jadi, istilah hujan buatan yang banyak digunakan atau dikenal oleh masyarakat sebenarnya kurang tepat, karena Balai Besar TMC tidak membuat hujan.

"Yang benar, kami hanya memodifikasi cuaca. Kami hanya memberikan perlakuan, mengintervensi proses fisika di sistem awan untuk tujuan tertentu, tergantung kebutuhannya. Menambah, atau mengurangi intensitas curah hujan," kata Budi Harsoyo.

Ia menjelaskan, syarat pelaksanaan TMC adalah harus ada awan potensial untuk disemai. Ketika tidak ada awan, tim TMC tidak bisa melakukan apa-apa. Dalam kondisi kemarau yang benar-benar tidak ada potensi awan hujan, mau dipaksakan seperti apa pun tim tetap tidak bisa berbuat banyak.

"Jadi, proses TMC prinsipnya adalah memberikan intervensi terhadap proses fisika di awan, dengan cara menambahkan partikel higroskopis (bahan semai) yang berfungsi sebagai inti kondensasi di dalam awan," papar Budi Harsoyo.

Menurut Budi, awan terbentuk atas kumpulan butir-butir air, yang kemudian tercampur dengan debu-debu di atmosfer yang namanya aerosol sumbernya bisa dari garam-garam penguapan air laut, polutan pabrik, kendaraan bermotor, dan lainya.

Aerosol alami inilah yang berfungsi sebagai inti kondensasi yang memicu terjadinya hujan secara alami. Butir-butir air (zat cair) di dalam awan bertemu dengan aerosol sebagai inti kondensasi (zat padat), terjadilah proses tumbukan dan penggabungan di dalam awan.

Kemudian, butir-butir air yang bertemu dengan aerosol saling bertumbukan dan dan kemudian bergabung satu sama lain, makin besar butirannya hingga massa jenisnya lebih berat dan akhirnya jatuh menjadi hujan. "Bahan semai yang kita injeksikan biasanya pakai powder berupa garam NaCl, atau dalam bentuk flare berfungsi untuk menambah inti kondensasi atau aerosol itu tadi, sehingga proses hujan bisa dipercepat," ungkap Budi Harsoyo.

TMC menggunakan bahan semai garam (NaCL). Menurutnya bahan ini adalah garam biasa, kemudian diolah di pabrik dengan ditambahkan bahan anti gumpal dan diperhalus ukurannya hingga berukuran sekitar 50 mikron. Dengan perlakuan itu, bentuk garam sangat halus, persis seperti bedak (powder).

Terkait pelaksanaan TMC untuk redistribusi curah hujan di Jakarta saat ini, dimaksudkan untuk mencegah curah hujan masuk ke Jabotadebek sehingga hujan sudah jatuh lebih awal di laut. Dari pengamatan tim, hujan banyak terjadi di sekitar Selat Sunda atau utara laut di utara Jakarta. Upaya ini dilakukan untuk mencegah banjir besar terulang seperti 1 Januari 2020, mengingat potensi curah hujan masih tinggi dan puncak musim hujan diperkirakan terjadi pada Februari.

Dalam pelaksanaan TMC untuk redistrubusi hujan di Jakarta, BPPT dibantu Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika dan TNI Angkatan Udara yang menyediakan armada pesawat.

BPPT saat ini lanjutnya, hanya memiliki dua pesawat untuk pelaksanaan TMC. Satu pesawat jenis Casa 212-200 berbasis bahan semai powder dan satu jenis piper chayenne untuk membawa bahan penyemai berbasis bahan flare yang juga berbahan garam.



Sumber: Suara Pembaruan