Social Selling Platform Bantu Pebisnis Tingkatkan Pendapatan

Social Selling Platform Bantu Pebisnis Tingkatkan Pendapatan
Platform SSP Ecomobi berfungsi sebagai jembatan penghubung antara brand dan influencer agar mereka dapat terkoneksi tanpa kendala. ( Foto: Beritasatu Photo / Istimewa )
Feriawan Hidayat / FER Senin, 20 Januari 2020 | 12:47 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Tren dalam penjualan dan pembelian di media sosial (Medsos) makin berkembang karena banyak brand dan merchant yang sadar akan potensi besar dari medsos di masa depan.

Baca Juga: Investasi Teknologi di Indonesia Berkembang Fenomenal

Baca Juga: Mendorong UMKM Go Online dengan Pengenalan Teknologi

Banyak brand dan merchant di bidang fashion, kosmetik, elektronik, dan lain sebagainya, telah menginvestasikan sejumlah besar dananya dalam social commerce untuk mendekati lebih banyak pelanggan potensial dan meningkatkan penjualan.

Namun, kebanyakan brand masih belum menemukan end to end solution untuk mengelola kinerja penjualan dari berbagai channel.

Pertanyaannya, bagaimana cara mengontrol dan mengukur semua campaign tanpa perlu menggunakan banyak platform? Apakah ada solusi terbaik yang dapat membantu brand melakukan hal tersebut?

Baca Juga: Cargloss Bidik Peningkatan Penjualan Lewat Online

Baca Juga: Produk Fesyen, Kategori Terlaris Belanja Online

Country Manager Ecomobi Indonesia, Elvin Saputra, mengatakan, saat melakukan campaign di medsos, ada banyak hal yang harus dikelola oleh brand. Pertama, menggunakan banyak medsos untuk mempromosikan produk mereka berarti brand perlu melacak dan mengukur kinerja campaign mereka melalui lebih dari satu platform.

"Misalnya, jika brand kosmetik menjalankan campaign iklan di Facebook dan Youtube secara bersamaan, mereka harus mengakses sistem pelacakan setiap saluran untuk memeriksa indeks terkait kinerja campaign seperti jumlah pesanan, jumlah penjualan, atau tingkat konversi. Oleh karena itu, mungkin diperlukan lebih banyak waktu dan lebih banyak biaya sumber daya manusia untuk menangani tugas ini,” ujar Elvin kepada Beritasatu.com, di Jakarta, Senin (20/1/2020).

Selain itu, lanjut Elvin, customer service di berbagai saluran sosial juga bisa menjadi masalah besar bagi brand. Dengan sejumlah besar pertanyaan dari pelanggan setiap hari, brand mungkin harus menghabiskan banyak biaya untuk sumber daya manusia atau customer service guna menjawab dan menyelesaikan semua masalah pelanggan.

Baca Juga: Wujudkan Kemudahan Berinvestasi, Ajaib Gandeng OVO

Baca Juga: Authenium dan Agenia Bidik UMKM Indonesia

"Belum lagi fakta bahwa customer service tidak dapat membalas pelanggan secara instan setiap saat, yang dapat membuat brand kehilangan beberapa calon pelanggan,” tegasnya.

Menurut Elvin, ketika melakukan influencer marketing, brand sering harus membayar biaya pemasaran yang terlalu tinggi untuk key opinion leader (KOL) atau influencer sosial tanpa ada komitmen penjualan sebagai imbalannya.

"Secara umum, efektivitas campaign pemasaran influencer diukur berdasarkan keterlibatan KOL seperti jumlah tampilan, suka, komentar, share di jejaring sosial. Hal ini dapat membantu perusahaan untuk meningkatkan brand awareness, tetapi KOL tidak dapat berkomitmen untuk menghasilkan penjualan nyata,” paparnya.

Baca Juga: Milenial Lebih Tertarik Belanja secara Online

Baca Juga: Peruri Kembangkan Produk dan Jasa Berbasis Digital

Menurut Elvin, dengan Social Selling Platform (SSP), mengelola semua kampanye di berbagai saluran sosial tak lagi sulit. Pasalnya, SSP adalah platform paling inklusif dan unik yang membantu bisnis meningkatkan brand awareness dan meningkatkan pendapatan melalui medsos.

"Platform ini juga mengintegrasikan data KOL yang lengkap dan handal sepert profil, kinerja, dan tingkat pemesanan, serta smart chatbot AI untuk membantu brand dalam layanan pelanggan dan penjualan sosial secara efektif," jelas Elvin.

Selain itu, lanjut Elvin, ketika menggunakan platform ini, skema pembayaran antara brand dan KOL didasarkan pada biaya pemesanan dan komisi, yang membuat KOL berkomitmen dalam menghasilkan pesanan nyata untuk brand karena komisi yang mereka terima didasarkan pada kinerja.

"Terakhir, dengan sistem pelacakan yang transparan dan modern, brand dapat dengan mudah mengukur kinerja pemasaran dari setiap campaign iklan yang sedang berjalan, hanya dengan satu platform saja," pungkas Elvin.



Sumber: BeritaSatu.com