Cashwagon Dorong Edukasi Pemberi Pinjaman

Cashwagon Dorong Edukasi Pemberi Pinjaman
CEO PT Kas Wagon Indonesia, Asri Anjarsari. ( Foto: Beritasatu Photo / Istimewa )
Lona Olavia / FER Selasa, 21 Januari 2020 | 21:35 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - PT Kas Wagon Indonesia (Cashwagon), penyedia layanan pinjam meminjam uang berbasis teknologi informasi (TI), dan mengoperasikan platform peer-to-peer (P2P) online, yang menghubungkan peminjam dan pemberi pinjaman menyiapkan tawaran spesial di ulang tahun keduanya, yaitu berupa tambahan bonus bunga 5 persen persentase bunga tahunan (APR).

Penawaran ini, memungkinkan para pemberi pinjaman memilih produk dengan total bunga tahunan maksimal 30 persen per tahun.

CEO PT Kas Wagon Indonesia, Asri Anjarsari, mengatakan, sistem penilaian berbasis artificial intelligence (AI) yang dimiliki Cashwagon, memungkinkan perseroan dengan cepat menentukan kemampuan seorang peminjam dalam membayar cicilan, sekaligus untuk efisiensi dan keamanan.

"Sebagai perusahaan yang 100 persen digital, kami lebih lincah, cepat dan fleksibel daripada tipikal sebuah lembaga perbankan. Dana operasi kami yang minim menjadi salah satu alasan mengapa kami dapat menawarkan suku bunga yang kompetitif untuk para pemberi pinjaman," ujar Asri Anjarsari dalam siaran persnya, Selasa (21/1/2020).

Dalam waktu dua tahun, kata Asri, tercatat lebih dari sejuta pinjaman yang telah diproses lewat platform ini, dan lebih dari Rp 1,5 triliun dana pinjaman yang telah dicairkan.

Adapun keuntungan-keuntungan yang dapat diperoleh para pemberi pinjaman di Cashwagon antara lain yakni dapat memulai dengan uji coba (trial) hanya dengan Rp 500.000 selama 10 hari, dapat meraih bunga sampai 30 persen per tahun, jangka waktu pendanaan yang bervariasi dari 10-360 hari.

"Kami bangga dengan apa yang telah kami capai dalam waktu dua tahun ini. Namun kami juga sadar, bahwa perjalanan masih panjang. Kami terus mengusahakan yang terbaik untuk para pemberi pinjaman dalam mencari tambahan penghasilan, dan para peminjam yang merasa terabaikan oleh lembaga keuangan tradisional,” jelas Asri Anjarsari.



Sumber: Suara Pembaruan