Transformasi Digital, Lintasarta Dukung Pembangunan Smart City

Transformasi Digital, Lintasarta Dukung Pembangunan Smart City
Dari kiri, General Manager Corporate Secretary Lintasarta Ade Kurniawan, Senior Advisor Strategic Business Development Lintasarta Yosi Widiyanti, Senior Manager Corporate Communicaton Lintasarta Suci Andirini, dan General Manager Marketing Lintasarta Bayu Adi Pramono berpose usai media gathering di Jakarta, Kamis (30/1/2020). ( Foto: istimewa / Istimewa )
Merdhy Pasaribu / MPA Kamis, 30 Januari 2020 | 20:26 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com – Transformasi digital telah diupayakan pemerintah daerah (pemda) mulai dari provinsi, kabupaten, hingga kota dalam beberapa tahun terakhir. Transformasi itu mutlak diperlukan bagi daerah yang sedang merintis smart city. Mulai dari master plan, infrastruktur fiber optic, hingga aplikasi, Lintasarta sebagai penyedia solusi teknologi ikut mendukung target pemda untuk membangun smart city.

“Kami punya layanan untuk smart city, dengan brand Skota, terutama untuk pemerintah daerah. Saat melakukan transformasi digital, pemda butuh peran Lintasarta untuk berikan dukungan. Setelah mulai dengan infrastruktur teknologi informasi, kini tren pasar bergeser aplikasi,” ujar General Manager Corporate Secretary Lintasarta Ade Kurniawan saat media gathering di Jakarta, Kams (30/1/2020).

Meskipun demikian, pembangunan smart city harus didahului master plan atau blue print dari pemerintah daerah yang bersangkutan. Rencana itu setidaknya harus bisa mencakup visi dan misi pemerintah daerah dalam lima tahun ke depan. Dengan demikian, berbagai tahapan pembangunan smart city bisa disesuaikan dengan ketersediaan anggaran dan kondisi kabupaten /kota terkait.

Lebih jauh Senior Advisor Strategic Business Development Lintasarta Yosi Widiyanti menjelaskan, Skota merupakan sistem informasi untuk kota, kabupaten, dan provinsi. Implementasinya mulai dari monitoring, command center, sampai aplikasi untuk petugas dan warga.

“Di Indonesia, ada 512 kabupaten dan kota yang kami sasar. Dengan command center, kita bisa memonitor posisi banjir, posisi kendaraan yang lewat, atau jenisnya seperti apa karena dilengkapi juga video analytic. Command center juga bisa digunakan untuk memberikan informasi untuk data pendidikan dan kesehatan di daerah, misalnya,” paparnya.

Meskipun demikian, General Manager Marketing Lintasarta Bayu Adi Pramono juga mengingatkan, saat ini, infrastruktur tiap daerah sangat beragam. Bahkan ada daerah yang tidak punya infrastruktur jaringan internet fiber optic (FO) untuk mendukung transformasi digital. Oleh karena itu, upaya transformasi digital bergantung pada visi pemimpin daerahnya.

“Jadi bagaimana kita bisa bicara aplikasi, kalau infrastrukturnya saja belum siap. Jika jaringan antardinas baru dibangun, lalu bagaimana struktur datanya? Saat ini, masalah di banyak daerah, data dipegang masing-masing dinas. Strukturnya pun berbeda, bahkan ada yang masih manual. Percuma ada apalikasinya tapi ujung pangkalnya tidak jelas,” paparnya.

Menurut Bayu, transformasi digital untuk menuju smart city sangat ditentukan fase kondisi kota terkait. Dengan master plan yang sudah ditetapkan, pembangunan transformasi digital bisa dilakukan secara bertahap atau multiyears. Dengan permasalahan yang berbeda di tiap daerah, masterplan juga tentu berbeda.

“Fase daerah itu ada di mana? Dengan kondisi tiap daerah yang berbeda, mereka belum tentu sanggup bangun dalam setahun. Jadi ada bagian konsultasi di sana. Kami bisa tawarkan kontrak, pemda menyewa. Kita pahami dulu kebutuhannya apa dan anggarannya berapa. Tahun ini, kami targetkan revenue dari transformasi digital pemda ini bisa tumbuh hingga double digit,” tambahnya.



Sumber: Suara Pembaruan