BPPT Siapkan Strategi Nasional Kecerdasan Buatan

BPPT Siapkan Strategi Nasional Kecerdasan Buatan
Kepala BPPT, Hammam Riza. (Foto: Beritasatu Photo / Ari Supriyanti Rikin)
Ari Supriyanti Rikin / FER Senin, 24 Februari 2020 | 18:41 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Hammam Riza, mengungkapkan, program kerja BPPT akan menyesuaikan dengan rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN) 2020-2024. Sebabnya, Revolusi Industri 4.0 tentu menjadi keniscayaan dan tidak bisa dihindari.

Baca Juga: Menristek Minta BPPT Kembangkan Kecerdasan Buatan

"Artificial intelligence (AI), internet of things (IoT), big data, cyber security, merupakan ilmu-ilmu pengungkit dari banyak sektor. Bicara obat, kita mau melakukan subtitusi impor pada bahan baku obat, apakah pengembangan obat dengan teknologi AI bisa? sangat bisa," ucap Hammam, saat pembukaan rapat kerja BPPT 2020 di Auditorium BJ Habibie di Jakarta, Senin (24/2/2020).

Menurut Hammam, jika bicara tentang obat tradisional Tiongkok, semua data mengenai apa khasiat sebuah tumbuhan tanaman obat itu semua sudah terpetakan disana.

"Sebenarnya banyak sekali tanaman obat asli Indonesia, kalau dipetakan khasiatnya, kandungannya, apa substansi yang ada di dalam obat tanaman itu, maka bisa menghasilkan penemuan obat baru untuk sakit kepala hingga kanker," jelas Hammam Riza.

Sementara itu, lanjut Hammam, kecerdasan buatan juga bisa dipakai memperkuat data prakiraan cuaca, pemetaan lahan sawah dan luasan panen. "Pengembangan AI ini, juga akan melibatkan berbagai disiplin ilmu," tandasnya.

Baca Juga: Wapres Dukung Kemitraan BPPT dengan Industri

Sesuai dengan arahan Menristek, kata Hammam, saat ini BPPT sedang mempersiapkan strategi nasional untuk pengembangan AI. Di dalamnya juga dilibatkan dunia bisnis dan akademik serta pemerintah.

"Kita akan tentukan paling tidak 5 fokus area untuk prioritas. Di antara itu semua harus ada quick win, jadi kita tidak menunggu lama untuk memiliki aplikasi AI yang dibuat sendiri," ujar Hammam.

Paling menarik, kata Hammam, penerapan AI di bidang kesehatan. Diharapkan ke depan mendeteksi mutasi virus seperti korona virus.

"Dengan data yang sudah dikumpulkan sekian tahun, akan bisa melihat mutasi gen atau mutasi virus. Bahkan bisa melihat potensi mutasi virus beberapa tahun yang akan datang," jelasnya.

Hammam menambahkan, pangan dan kesehatan merupakan hajat hidup orang banyak. Salah satu inovasi yang sudah dihasilkan BPPT adalah implan tulang yang bisa menggantikan impor.

"Selain kesehatan, bidang lainnya yang menjadi fokus pengembangan AI antara lain kebencanaan, pangan, food engineering, dan industri pertahanan," pungkas Hammam.



Sumber: BeritaSatu.com