Kisah Inspiratif:

Insinyur Muda India Kembangkan Ventilator Seharga Hanya Rp 11 Jutaan

Insinyur Muda India Kembangkan Ventilator Seharga Hanya Rp 11 Jutaan
Ilustrasi ventilator untuk pasien terinfeksi "corona". ( Foto: AFP )
Heru Andriyanto / HA Rabu, 1 April 2020 | 13:07 WIB

Beritasatu.com – Di dalam sebuah pabrik seluas 743 m2 di kota Pune, India, sekelompok insinyur muda tengah berpacu dengan waktu untuk mengembangkan alat bantu pernapasan atau ventilator yang terjangkau harganya, di tengah meningkatnya permintaan akibat pandemik virus corona.

Jika sukses, karya mereka bisa menyelamatkan ribuan nyawa ketika para pasien kasus positif Covid-19 mulai membanjiri rumah sakit nantinya.

Para insinyur ini adalah juga pendiri startup Nocca Robotics yang membuat robot pembersih pembangkit tenaga surya tanpa menggunakan air.

Mereka adalah lulusan dari beberapa perguruan tinggi terkemuka di India jurusan teknik mesin, elektro, dan kedirgantaraan. Rata-rata usia mereka baru 26 tahun.

India diperkirakan hanya memiliki paling banyak 48.000 ventilator, dan tidak ada yang tahu pasti berapa dari jumlah itu yang masih berfungsi. Dan bisa dikatakan semua ventilator yang ada saat ini terpakai di ruang rawat intensif untuk pasien-pasien dengan penyakit lain.

Sekitar satu dari enam pasien Covid-19 berada dalam kondisi serius dan kesulitan bernapas. India harus bersiap menghadapi peningkatan jumlah pasien yang ekstrem seperti yang telah dialami banyak negara lain, sehingga para dokter dipaksa untuk memilih mana yang harus didahulukan untuk diselamatkan nyawanya.

5 Hari 3 Purwarupa
Setidaknya ada dua perusahaan India yang bisa membuat ventilator, salah satunya AgVa Healthcare yang akan memproduksi 20.000 unit dalam waktu sebulan. Namun, mereka masih banyak mengandalkan komponen impor dan menjual produknya paling murah 150.000 rupee (Rp 33 juta).

India juga sudah memesan 10.000 unit dari Tiongkok, tetapi jumlah itu kecil saja dibandingkan perkiraan kebutuhan ke depan.

Para insinyur Nocca Robotics tengah mengembangkan ventilator yang bisa dibeli dengan harga 50.000 rupee saja, atau sekitar Rp 11 juta. Pada lima hari pertama saja, tujuh insinyur muda itu sudah menghasilkan tiga purwarupa ventilator jinjing.

Tiga purwarupa itu masih dalam tahap pengujian menggunakan paru-paru buatan, perangkat khusus yang bisa memasok oksigen dan membuang karbondioksida dari darah.

Mereka menargetkan ventilator baru itu bisa diuji ke pasien sesungguhnya setelah disetujui pemerintah pada 7 April nanti.

"Ini sudah nyaris bisa digunakan sepenuhnya,” kata Dr Deepak Padmanabhan, kardiologis Jayadeva Institute of Cardiovascular Sciences and Research di Bangalore, dan juga penasihat dalam proyek tersebut.

"Simulasi pada paru-paru buatan sudah dilakukan dan tampaknya berfungsi dengan baik,” ujarnya.

Menginspirasi
Proyek mendadak untuk menggarap ventilator dengan harga terjangkau dan sepenuhnya buatan dalam negeri ini menjadi kisah inspiratif tentang koordinasi dan aksi nyata yang cepat antara pemerintah dan lembaga-lembaga swasta, hal yang jarang terjadi di India.

"Pandemik ini telah menyatukan kami semua dengan cara yang tidak saya bayangkan sebelumnya,” kata Amitabha Bandyopadhyay, profesor ilmu biologi di Indian Institute of Technology (IIT), Kanpur, dan salah satu penggerak proyek ini.

Para insiyur muda itu menjelajahi grup-grup perangkat medis di internet untuk mendapatkan informasi bagaimana cara membuat ventilator.

Setelah mendapatkan izin, hanya butuh waktu delapan jam bagi mereka untuk membuat purwarupa yang pertama. Untuk fitur tertentu, mereka mengambil rancangan dari para insinyur Massachusetts Institute of Technology (MIT) di Amerika.

Karena impor terhenti akibat pandemik, mereka menggunakan sensor tekanan yang biasa dipakai di drone dan tersedia di pasaran lokal. Sensor tekanan adalah komponen penting ventilator untuk membantu mengalirkan oksigen ke paru-paru dengan kadar tekanan tertentu agar tidak menyebabkan cedera.

Otoritas setempat membantu mereka dengan memerintahkan perusahaan-perusahaan pemasok komponen untuk tetap buka. Setiap ventilator butuh sekitar 150 hingga 200 komponen terpisah. Selain itu, pemerintah juga membantu kedatangan para insinyur muda itu kembali ke Pune untuk segera memulai proyek setelah sebelumnya pulang ke kampung halaman di Nanded karena kebijakan karantina wilayah. Jarak dua kota itu sekitar 400 km.

Sejumlah perusahaan manufaktur di India, termasuk perusahaan peralatan medis terkemuka, menawarkan lokasi proyek di pabrik mereka. Rencana awal adalah memproduksi 30.000 ventilator dalam waktu 150 sampai 200 hari, dimulai pertengahan Mei.

IIT, institut teknik terkemuka di India, adalah juga sekolah yang meluluskan bos Google, Sundar Pichai.

Pichai dan sejumlah alumni lainnya ikut memberi saran dalam proyek ini dan menanyakan perkembangan proyek mereka lewat konferensi video Zoom.

Baca juga: Perusahaan ini Siap Produksi 10.000 Ventilator dalam Sebulan

Pichai memberi kuliah 90 menit kepada mereka tentang bagaimana mengelola produksi. Yang lain memberi tahu cara mendapatkan pasokan komponen yang dibutuhkan.

Kemudian yang paling penting, banyak dokter terlibat di setiap tahap pengembangan dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sulit. Total ada selusin pakar yang ikut memandu anak-anak muda ini, termasuk pulmonologis, kardiologis, pemodal ventura, inovator dan ilmuwan.

De-modernisasi
Para dokter mengatakan tujuan proyek ini adalah mengembangkan alat bantu pernapasan yang simpel tanpa banyak aksesoris sesuai dengan kondisi di India.

Ventilator butuh pasokan oksigen bertekanan tinggi dari fasilitas di rumah sakit. Namun di India pasokan oksigen yang didistribusikan dengan pipa ini tidak tersedia di kota-kota kecil apalagi di pedesaan, karena kebanyakan mengandalkan oksigen tabung. Karena itu ventilator yang dibuat juga harus disesuaikan.

"Bisa dikatakan kami sedang melakukan ‘de-modernisasi’ sebuah mesin ke era sekitar 20 tahun yang lalu," kata Dr Padmanabhan.

Nikhil Kurele, yang memimpin kelompok anak muda itu, mengatakan secara teknis mereka tidak menemukan kendala, tetapi tantangan yang dihadapi sangat berat karena mesin yang dibuat dimaksudkan untuk menyelamatkan nyawa manusia.

"Kami memang tidak berpengalaman, namun kami ahli membuat produk dan bisa dengan mudah melakukannya. Robot yang kami buat sebelumnya jauh lebih rumit pengerjaannya. Namun, mesin ini dipakai untuk menyelamatkan nyawa dan memiliki banyak risiko, jadi kami harus sangat berhati-hati untuk bisa membangun sebuah produk yang sempurna dan bisa mendapatkan semua izin yang diperlukan," kata Kurele, 26, yang juga salah satu pendiri dan CEO Nocca Robotics.

Dalam satu pekan mendatang, India akan menyaksikan apakah karya mereka ini bisa digunakan.



Sumber: BBC