Kominfo: Hoax Pandemi Covid-19 Capai 500 Kasus

Kominfo: Hoax Pandemi Covid-19 Capai 500 Kasus
Ilustrasi pemeriksaan Covid-19 di laboratorium. (Foto: AFP)
Dina Fitri Annisa / YUD Sabtu, 18 April 2020 | 18:40 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Komunikasi dan Informasi (Menkominfo) Johnny G Plate memberikan data terbaru bahwa sudah terdapat lebih dari 500 kasus terkait virus corona (Covid-19) yang tercatat hingga Sabtu (18/4/2020). Kasus ini ditemukan diberbagai platform digital.

"Dapat kami sampaikan ada 554 isu hoax, dan tersebar di 1.209 platform, Facebook, Instagram, Twitter, dan YouTube. Kami sudah memblokir 893 hoaks, terdiri dari 681 Facebook, 4 Instagram, 204 di Twitter, dan 4 di YouTube," terangnya di Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta, Sabtu (18/4/2020).

Baca juga: Pandemi Covid-19, Presiden Imbau Gaungkan Gotong Royong

Dari jumlah tersebut, sebanyak 83 orang telah ditetapkan sebagai tersangka, 14 diantaranya sudah ditahan. Sedangkan sisanya masih dalam proses penanganan oleh pihak yang berwajib.

Dirinya kembali mengingatkan kepada masyarakat bahwa, barangsiapa yang membuat, menyebarkan, dan meneruskan hoax adalah tindak pidana. Dia pun meminta seluruh platform digital dapat aktif bekerja sama melakukan pemblokiran berita bohong.

Baca juga: Pandemi Covid-19, Operasional KA Kamandaka dan Joglosemarkerto Sementara Dihentikan

"Kami mengacu kepada UU ITE dan UU terkait lainya untuk mengingatkan semua yang menyelenggarakan kegiatan di ruang digital, khususnya platform digital, bahwa kami akan gunakan seluruh kewenangan yang dimiliki apabila hoaks dibiarkan di platform digital. Kami minta agar segera takedown dan blokir," tegas Johny.

Aplikasi Terpercaya

Demi menghindari diri dari berita hoax mengenai pandemi, ia pun mengimbau masyarakat untuk mengunggah aplikasi PeduliLindungi. Masyarakat diminta tidak ragu untuk mengunggah PeduliLindungi, karena provider menggunakan sistem keamanan berlapis dan App Store serta Play Store juga telah me-review aplikasi ini sehingga listing dan tersedia di kedua platform terpercaya ini.

“Kami mengajak masyarakat untuk menjadi pengguna, karena semakin banyak yang menginstal, semakin masif upaya kita memutus mata rantai Covid-19,” ungkapnya.

PeduliLindungi memiliki fitur aplikasi tracking yang dapat mendeteksi pergerakan terpapar Covid-19 selama 14 hari ke belakang. Aplikasi juga dapat terhubung dengan operator selular lainnya untuk menghasilkan visualisasi yang sama.

Berdasarkan hasil tracking dan tracing, nomor di sekitar pasien positif Covid-19 yang terdeteksi akan diberikan warning untuk segera menjalankan protokol kesehatan. Aplikasi ini juga digunakan untuk memonitor pendatang dari luar negeri dan pos lintas batas.

Baca juga: Ancaman Infodemic Dapat Memperburuk Pandemi Covid-19

“Aplikasi ini bekerja untuk kepentingan masyarakat, semakin banyak masyarakat yang meng-install dan menggunakannya maka tingkat akurasinya akan semakin tinggi, sehingga kita dapat membantu sesama dalam menanggulangi penyebaran Covid-19. Semakin banyak, semakin bermanfaat bagi masyarakat,” jelasnya.

Saat ini tidak kurang 1 juta pengguna telah meng-install aplikasi PeduliLindungi untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19, melalui aplikasi PeduliLindungi yang telah ditetapkan dengan Keputusan Menteri Kominfo No. 171 Tahun 2020

Keputusan ini sebagai dasar penyelenggaraan tracing, tracking dan fencing melalui infrastruktur, sistem dan aplikasi telekomunikasi untuk mendukung Surveilans Kesehatan melengkapi Keputusan Menteri Komuniakasi dan Informatika sebelumnya yaitu Keputusan Menteri Kominfo No. 159 Tahun 2020.

Dari implementasi di lapangan terbukti bahwa smartphone yang sudah meng-install akan diberikan notifikasi saat yang bersangkutan berada di sekitar orang terpapar Covid-19 dan meminta menjauh tanpa tahu siapa yang terpapar sebagai aspek perlindungan data pribadi.



Sumber: BeritaSatu.com