Pandemi Covid-19 Memacu Perusahaan Terapkan Tranformasi Digital

Pandemi Covid-19 Memacu Perusahaan Terapkan Tranformasi Digital
Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) memperkuat posisi teknologi informasi (TI). (Foto: Beritasatu Photo / Istimewa)
Feriawan Hidayat / FER Senin, 11 Mei 2020 | 20:18 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pandemi virus corona atau Covid-19 telah mempercepat terjadinya budaya bekerja jarak jauh, sebuah fase penting yang dalam satu dekade lalu merupakan sesuatu yang tak lazim.

Baca: Mesin Pintar Memaksimalkan PSBB di Area Rawan Covid-19

Sejak terjadinya pandemi corona, perusahaan telah melakukan upaya terbaik membangun tempat kerja virtual yang bersinergi dengan teknologi pendukung sebagai bagian dari rencana bisnis yang berkelanjutan.

Namun, situasi work from home atau bekerja jarak jauh mengalami transisi dari sebuah pilihan menjadi budaya kerja yang baru. Pasalnya, virus corona merupakan wake-up call bagi perusahaan yang selama ini hanya fokus pada permintaan operasional biasa, menjadi sebuah ketahanan digital jangka-panjang.

"Transformasi digital bukan hanya tentang mengimplementasikan teknologi dan tools terbaru, namun juga tentang menyadari nilai tambah yang ditawarkannya seperti fleksibilitas, kelincahan, dan produktivitas diantara tim kerja yang beragam,” kata Product Consultant ManageEngine, Srilekha Veena Sankaran, dalam keterangan pers yang diterima Beritasatu.com, Senin (11/5/2020).

Baca: Tips Menyiasati Kerepotan Selama Work From Home

Untuk menjembatani perusahaan dan digitalisasi, kata Srilekha, perusahaan dapat berkonsentrasi pada tiga faktor utama yang bisa membantu mengkatalisasi perjalanan transformasi digital menuju budaya bekerja jarak jauh.

Memperkuat Tim Kerja dengan Pendidikan

Untuk mengawali rencana bisnis yang berkelanjutan, sebagian perusahaan cenderung memperhatikan aspek teknologi dari bekerja jarak jauh, menjalankan solusi dan tool jarak jauh untuk melanjutkan operasional bisnis. Namun, teknologi itu sendiri tidak membantu dalam mengubah perusahaan secara menyeluruh.

Adapun yang mendorong transformasi digital adalah tim kerja, namun seringkali tidak dikembangkan dengan sungguh-sungguh untuk melakukan hal tersebut di lingkungan kerja, termasuk menyiapkan mental, bakat, dan ketrampilan.

"Perusahaan harus mengadakan pelatihan secara berkala dan lokakarya tentang tren dan permintaan pasar, dan membekali mereka dengan susunan tool dan sumberdaya mandiri agar bisa mengurangi beban tim teknologi informasi (TI). Dengan demikian, tim IT dapat berkonsentrasi pada pekerjaan-pekerjaan penting, dan bisa membantu end user untuk membangun budaya kerja yang terpadu dan lincah," jelas Srilekha.

Memperkuat TI dengan Kecerdasan Buatan (AI)

Tantangan lain dari ruang bekerja jarak jauh yang dihadapi tim TI adalah tugas besar untuk menegakkan performa bermacam aplikasi dan network penting sambil memastikan tidak ada gangguan dan latensi.

Namun, sifat dasar aplikasi yang dinamis, pusat data yang terdistribusi, dan infrastruktur layanan cloud membuat tim operasional TI harus tetap sejajar dengan jejaring dan aplikasi mereka secara real-time agar bisa bermitigasi dan mengenali masalah lebih dulu. Di sinilah penggunaan artificial intelligence (AI) akan berperan dalam jangka panjang.

"AI dan tim operasional TI akan membantu mengkorelasikan data real-time, menganalisa sebab-akibat secara periodik, menormalisasi data multi-dimensi, memprioritaskan masalah berdasarkan intensitas, dan membangun rencana respon dini untuk mengantisipasi dan memitigasi kejadian yang akan datang," jelasnya.

Merancang Strategi Keamanan yang Mudah

Lonjakan tiba-tiba jumlah pekerja jarak jauh membuka kesempatan bagi para kriminal siber beraksi. Para peretas memanfaatkan kesempatan ini untuk melakukan phising dan serangan malware serta spyware.

Kalangan peretas tentunya berusaha mencari dan memanfaatkan celah di perimeter keamanan (security). Oleh karena itu, perusahaan harus meninjau kebijakan mereka dan membangun infrastruktur security yang lebih mudah untuk memprediksi dan menggagalkan serangan.

"Saat membangun strategi keamaan siber untuk mengakomodir proses digitalisasi infrastruktur TI yang sedang bertumbuh, perusahaan harus mengambil pendekatan proaktif. Termasuk pendekatan yang berkesinambungan, penilaian risiko real-time, melakukan kebijakan manajemen akses yang ketat untuk aplikasi bisnis, pemulihan bencana, dan percobaan kerentanan," tegas Srilekha.

Pemberdayaan Karyawan

Menurut Srilekha, proses digitalisasi perusahaan bisa dianggap sukses begitu masyarakat yang mendorong gerakan ini siap untuk menerima perubahan yang berkesinambungan sebagai kesepatan untuk bertumbuh dan berinovasi.

Kemampuan untuk menangkap tren dan kesempatan teknologi di masa transisional seperti sekarang melahirkan inovasi, dengan demikian perusahaan bisa beradaptasi dengan permintaan dan perilaku pasar yang berubah dengan lancar.

"Adapun yang terpenting saat ini adalah, para pengambil keputusan harus menciptakan dan mengembangkan budaya kerja kolaboratif dengan dukungan teknologi untuk meningkatkan produktivitas, kelincahan dan kompak, bahkan pada saat bekerja dari jarak jauh," pungkas Srilekha.



Sumber: BeritaSatu.com