New Normal Pacu Investasi Telkom Lebih Cepat Termonetisasi

New Normal Pacu Investasi Telkom Lebih Cepat Termonetisasi
Ilustrasi Telkom Indonesia. (Foto: Beritasatu Photo / Istimewa)
Lona Olavia / WBP Senin, 1 Juni 2020 | 08:57 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kondisi kenormalan baru (new normal) yang akan dijalani masyarakat diprediksi membuat investasi Pt Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) di sektor infrastruktur digital lebih cepat termonetisasi karena peran teknologi informasi (TI) menjadi strategis untuk mengatasi penerapan physical distancing.

Direktur Indonesia ICT Institute Heru Sutadi mengatakan, Telkom sejak lima tahun lalu konsisten menggelontorkan investasi yang besar membangun infrastruktur digital mulai satelit, Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) lokal dan internasional, last mile berupa menara telekomunikasi (BTS) dan kabel optik, hingga aplikasi-aplikasi yang menunjang gaya hidup digital.

"Di masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) kita baru merasakan manfaat infrastruktur yang dibangun Telkom atau operator itu. Tadinya mungkin kebutuhan sekunder, sekarang menjadi primer. Konsistensi dalam investasi besar di infrastruktur digital itu akan makin cepat return-nya di masa pandemi ini," katanya dalam siaran pers, Senin (1/6/2020).

Baca juga: New Normal Akan Berjalan Bertahap

Walau ada pandemi, Telkom diharapkan tetap konsisten menggelontorkan belanja modal besar membangun infrastruktur digital mengingat Covid-19 telah mengubah perilaku masyarakat yang kian nyaman menggunakan teknologi digital. “Kan sedih dengar Mendikbud dicurhati ibu-ibu tidak ada akses internet untuk belajar dari rumah. Sekarang kan kelihatan infrastruktur digital yang menjangkau hingga desa ya punya Telkom. Ini akan membuat utilisasi infrastruktur yang dibangun akan maksimal," katanya.

Baca juga: Telkom Group Raup Laba Bersih Rp 18,66 Triliun di 2019

Mengutip laporan keuangan Telkom untuk 2019, total belanja modal pada 2019 tercatat Rp 36,59 triliun atau 27 persen dari total pendapatan. Belanja modal tersebut digunakan untuk meningkatkan kapabilitas digital dengan terus membangun infrastruktur broadband yang meliputi BTS 4G LTE, jaringan akses serat optik ke rumah, jaringan backbone serat optik bawah laut dan terestrial, serta sebagian juga untuk keperluan bisnis menara. “Kalau dilihat lima tahun ke belakang selalu belanja modal Telkom itu alokasinya sekitar 25 persen dari total pendapatan,”pungkasnya.

Analis Senior CSA Research Institute Reza Priyambada menyatakan, jika melihat kinerja Telkom di 2019 membuktikan jargon bisnis Halo-halo itu sudah sunset adalah hal yang salah. “Bisnis Halo-halo tidak akan sunset selama pelaku usahanya mampu menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Inovasi digital ke depan semakin berkembang dan maju. Jadi kalau operator mampu bersaing dan bertahan dengan kondisi yang ada maka mereka bisa tetap survive,”katanya

Dalam catatan, kinerja Telkom sepanjang 2019 yang meraih keuntungan sebesar Rp 18,6 triliun naik tipis 3,5 persen dibandingkan periode 2018 sebesar Rp 18 triliun. 



Sumber: BeritaSatu.com