Serangan Ransomware ke Sektor UMKM Menurun

Serangan Ransomware ke Sektor UMKM Menurun
Ilustrasi Cyber Crime. (Foto: Istimewa)
Herman / FER Senin, 1 Juni 2020 | 16:35 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Serangan program jahat atau malware jenis ransomware masih menjadi ancaman dalam dunia siber, meskipun terjadi tren penurunan.

Baca Juga: Mengandung Malware, Aplikasi VivaVideo Disarankan Dihapus

Dari data Kaspersky untuk Asia Tenggara (South East Asia) membuktikan ancaman terkait masih banyak dijumpai hingga saat ini, khususnya terhadap usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di wilayah tersebut.

Selama tiga bulan pertama 2020, sebanyak 269.204 upaya ransomware digagalkan oleh solusi Kaspersky untuk bisnis. Informasi ini diterima berdasarkan pada putusan deteksi produk Kaspersky oleh para pengguna yang menyetujui untuk menyediakan data statistik.

"Secara keseluruhan, kami telah mengamati penurunan signifikan dalam serangan ransomware yang telah kami blokir terhadap sektor UMKM di Asia Tenggara. Angka kuartal pertama adalah 69 persen lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2019. Ini jelas merupakan pertanda baik. Namun, perusahaan tidak boleh langsung berpuas diri," kata General Manager untuk Asia Tenggara di Kaspersky, Yeo Siang Tiong dalam keterangan resminya, Senin (1/6/2020).

Baca Juga: Google Deteksi Kejahatan Siber Baru Terkait Covid-19

Yeo menambahkan, para pelaku kejahatan siber mungkin menunjukkan aktivitas lebih sedikit tetapi ketepatannya tidak diragukan lagi telah meningkat. "Telemetri kami menunjukkan, mereka lebih fokus pada penargetan bisnis dan organisasi untuk saat ini,” tambahnya.

Untuk menginstal ransomware ke sistem pengguna, terang Yeo, pelaku kejahatan siber biasanya menggunakan email phishing, situs web yang terinfeksi dengan program berbahaya, atau perangkat lunak yang tidak diperbarui.

Setelah Trojan terinstal, Trojan akan mengenkripsi informasi yang disimpan di komputer pengguna atau memblokir komputer agar tidak berjalan secara normal, sekaligus meninggalkan pesan tebusan yang menuntut biaya, untuk mendekripsi file atau memulihkan sistem. Dalam kebanyakan kasus, pesan tebusan akan muncul ketika pengguna melakukan restart komputer setelah terjadinya infeksi.

Baca Juga: Fintech Jadi Sasaran Penjahat Siber

Statistik per negara selama kuartal pertama 2020 menunjukkan semua wilayah di Asia Tenggara mencatat penurunan deteksi ransomware dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Di Indonesia sendiri pada kuartal I 2020 terdeteksi 131.944 upaya ransomware terhadap UMKM yang diblokir oleh solusi Kaspersky, lebih rendah dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya yang mencapai 520.146.

"Kita dapat dengan aman mengatakan bahwa perusahaan sekarang sadar penuh atas bahaya ini setelah insiden Wannacry tiga tahun lalu. Situasi pandemi sekarang yang memaksa karyawan untuk bekerja dari jarak jauh, bagaimanapun telah mengaburkan batas antara perusahaan dan keamanan pribadi, dan sekaligus meningkatkan permukaan serangan yang dapat dieksploitasi oleh para pelaku kejahatan siber," kata Yeo.



Sumber: BeritaSatu.com