UMKM Indonesia Jadi Sasaran Utama Penambang Kripto

UMKM Indonesia Jadi Sasaran Utama Penambang Kripto
Ilustrasi UMKM. (Foto: Antara/Aloysius Jarot Nugroho)
Herman / FER Rabu, 3 Juni 2020 | 17:42 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Serangan siber berupa pelanggaran data dan ransomware menjadi dua hal menjadi konsen para perusahaan. Namun, data terbaru dari Kaspersky menunjukkan bahwa ancaman terbesar dalam usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Asia Tenggara bukanlah keduanya, melainkan para penambang kripto (miners).

Baca Juga: Serangan Ransomware Mulai Manfaatkan AI

Hanya dalam tiga bulan pertama tahun 2020, solusi Kaspersky telah menggagalkan lebih dari satu juta upaya penambangan terhadap perangkat bisnis di Asia Tenggara. Ini 12 persen lebih tinggi dibandingkan dengan 949.592 insiden penambangan yang diblokir pada periode yang sama tahun lalu.

Jumlah total upaya penambangan yang terdeteksi pada kuartal pertama tahun ini juga secara signifikan lebih banyak dari 834.993 upaya phishing dan 269.204 deteksi ransomware terhadap UMKM di wilayah tersebut.

“Kami tidak menyangkal fakta bahwa bahaya penambangan merusak lebih ringan dibandingkan dengan ransomware, pelanggaran data, dan sejenisnya, tetapi itu tetap merupakan risiko yang harus dipertimbangkan oleh sektor UMKM secara serius. Para pelaku kejahatan siber di balik serangan ini menggunakan sumber daya Anda sendiri, listrik Anda, bandwidth data Anda, ke hardware perangkat Anda yang tentu sama sekali tidak murah,” kata General Manager untuk Asia Tenggara di Kaspersky, Yeo Siang Tiong dalam keterangan resminya, Rabu (3/6/2020).

Baca Juga: Berbahaya, Inilah Cara Kerja Ransomware

Penambangan kripto berbahaya, juga dikenal sebagai cryptojacking, yaitu serangan yang dapat menimbulkan kerugian baik langsung maupun tidak langsung bagi bisnis. Penambang kripto yang menginfeksi komputer pengguna pada dasarnya beroperasi sesuai dengan model bisnis yang sama dengan program ransomware, yakni kekuatan komputasi target dimanfaatkan untuk memperkaya para pelaku kejahatan siber.

Selain bertambahnya substansial dalam konsumsi listrik dan penggunaan CPU, penambangan meningkatkan keausan pada perangkat keras dengan pemrosesan inti (processing core), termasuk yang berada di dalam kartu grafis diskrit, yang bekerja keras untuk menambang kripto yang sudah rusak.

Bandwidth yang terbuang juga mengurangi kecepatan dan efisiensi beban kerja komputasi yang sah. Selain itu, malware cryptojacking dapat membanjiri sistem, menyebabkan masalah kinerja yang cukup merusak, dan memiliki efek langsung pada jaringan bisnis hingga pada akhirnya berpengaruh pada pelanggan mereka.

Baca Juga: Serangan Ransomware ke Sektor UMKM Menurun

Data Kaspersky lebih lanjut mengungkapkan, Indonesia dan Vietnam menjadi negara di Asia Tenggara dan secara global memiliki upaya penambangan kripto tertinggi terhadap UMKM. Di Indonesia sendiri pada kuartal I-2020, jumlah upaya penambangan berbahaya terhadap UMKM yang diblokir oleh solusi Kaspersky mencapai 481.944 atau urutan ke-3 secara global. Sementara Vietnam di urutan ke-5.

"Satu poin penting yang harus dipertimbangkan oleh UMKM adalah bahwa terdapat korelasi langsung antara keberhasilan cryptojacking dan penggunaan perangkat lunak bajakan. Semakin banyak perangkat lunak tanpa izin didistribusikan, semakin banyak penambang, maka saya menghimbau para perusahaan untuk selalu menggunakan perangkat lunak yang sah,” tambah Yeo.



Sumber: BeritaSatu.com