Juli, Hasil Uji Klinis Obat Herbal Pasien Covid-19 Keluar

Juli, Hasil Uji Klinis Obat Herbal Pasien Covid-19 Keluar
Ilustrasi pemeriksaan pasien yang diduga terinfeksi Covid-19. (Foto: Antara)
Ari Supriyanti Rikin / EAS Rabu, 10 Juni 2020 | 22:55 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Uji klinis imunomodulator dari produk herbal Indonesia untuk pasien Covid-19 sudah dilakukan Senin (8/6/2020) malam, pada pasien Covid-19 di Rumah Sakit Darurat Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta. Diharapkan pada Juli 2020, analisis dan hasil sementara dari uji klinis obat herbal ini sudah terlihat.

Uji klinis dilakukan tim dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan, dan tim dokter Rumah Sakit Darurat Penanganan Covid-19 Wisma Atlet Kemayoran dengan pendampingan regulasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Uji klinis dilakukan pada 90 pasien Covid-19. Dua produk yang diuji klinis adalah Cordyceps militaris dan kombinasi herbal yang terdiri dari rimpang jahe, meniran, sambiloto dan daun sembung.

"Uji klinis ini merupakan tonggak sejarah bagi pengembangan suplemen dan obat di Indonesia,” kata Kepala LIPI Laksana Tri Handoko dalam keterangannya di Jakarta Rabu (10/6/2020).

Handoko menjelaskan, uji klinis produk herbal pertama yang ditujukan untuk penanganan Covid-19 di Indonesia ini dipimpin dan dirancang oleh peneliti Indonesia. Menurutnya, bila berhasil uji klinis akan membuktikan bahwa suplemen yang selama ini telah diproduksi bisa diklaim untuk penanganan Covid-19.

"Uji klinis ini berpotensi untuk menjadikan produk ekspor unggulan Indonesia,” ucap Handoko.

Koordinator Kegiatan Uji Klinis Kandidat Imunomodulator dari Herbal untuk Penanganan Covid-19 dari Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, Masteria Yunovilsa Putra, menjelaskan kombinasi herbal yang sedang diuji klinis tersebut sudah memiliki nomor izin edar.

“Ada prototipe dan datanya serta sudah memiliki izin edar dari BPOM,” kata Masteria.

Ia mengungkapkan, obat dan suplemen herbal ini diharapkan tidak hanya untuk mengobati, namun dapat digunakan sebagai pencegahan untuk orang dalam pengawasan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP) yang terindikasi Covid-19.

Diketahui, riset ini telah dilakukan sejak bulan Maret lalu, diawali dengan pengkajian ilmiah terhadap beberapa komoditas herbal Indonesia yang diperkirakan memiliki aktivitas imunomodulator. Pengkajian ilmiah ini dikerjakan oleh tim peneliti LIPI, Universitas Gadjah Mada, dan PT Kalbe Farma Tbk.

“Harapannya jika nanti tanaman herbal ini lulus uji klinis, ketersediaanya terjamin dan dapat mudah ditemukan di sekitar,” imbuhnya.



Sumber: BeritaSatu.com