Riset Terbaru: Virus Corona Bermutasi Jadi Kian Menular

Riset Terbaru: Virus Corona Bermutasi Jadi Kian Menular
Ilustrasi Virus Corona. (Foto: Beritasatu.com / Muhammad Reza)
Heru Andriyanto / HA Sabtu, 13 Juni 2020 | 14:48 WIB

Beritasatu.com - Para peneliti di Florida, AS, mengatakan virus corona telah bermutasi dengan cara yang membuatnya makin mudah menginfeksi sel manusia, berdasarkan hasil penelitian yang mereka lakukan belum lama ini.

Kemampuan bermutasi ini mungkin bisa menjelaskan kenapa Amerika Serikat dan kawasan Amerika Latin sekarang dilanda wabah dengan tingkat penularan yang sangat cepat.

Belakangan ini para ilmuwan memang mengkhawatirkan kemampuan virus ini untuk bermutasi dan beradaptasi dengan lingkungan barunya.

Para peneliti di Scripps Research Institute, Florida, mengatakan mutasi ini mempengaruhi spike protein atau protein pucuk, yaitu struktur yang terdapat di lapisan luar virus dan berfungsi untuk menembus sel mahluk yang dihinggapinya.

"Virus dengan mutasi seperti ini jauh lebih menular dibandingkan virus tanpa mutasi dalam sistem pembiakan sel yang kami gunakan," kata Hyeryun Choe, virologist Scripps Research yang memimpin penelitian ini, Jumat (12/6/2020) waktu setempat.

Pekan lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan mutasi yang terjadi tidak membuat virus corona menjadi lebih menular atau lebih mematikan.

Choe dan rekan-rekannya melakukan sejumlah ekperimen di piring laboratorium dan mutasi yang terjadi -- yang diberi kode D614G -- memberi virus itu lebih banyak pucuk yang juga lebih stabil sifatnya. Karenanya, virus hasil mutasi ini menjadi lebih mudah menembus sel.

Mereka akan mengunggah hasil penelitian ini ke sistem peladen BioRxiv sebelum dipublikasikan. Artinya, hasil kerja tersebut belum diperiksa oleh para pakar lain di bidang virologi.

Virus ini menjadi 10 kali lebih menular dibandingkan sebelumnya.

Namun, Choe dan timnya mengirim dokumen penelitian ini ke William Haseltine, seorang virologis dan pengusaha bioteknologi yang juga ketua Access Health International. Haseltine mengatakan dia yakin penemuan ini menjelaskan kenapa virus corona bisa dengan mudah menyebar di benua Amerika.

"Ini sangat penting karena bisa menunjukkan bahwa virus ini bisa mengubah diri, dan memang dia berubah untuk menambah keunggulannya dan mengurangi keunggulan kita," kata Haseltine seperti dikutip stasiun televisi Amerika, CNN.

"Sejauh ini virus tersebut bisa menjalankan tugasnya dengan baik untuk beradaptasi dengan respon manusia. Anda bisa lihat di sejumlah tempat dia tidak bisa bergerak jauh dan di tempat lain dia telah menyebar ke mana-mana,” imbuhnya.

Para ilmuwan di seluruh dunia berbagi sekuen virus ini -- yang bermutasi terus menerus seperti halnya semua tipe virus lainnya.

"Sekitar pertengahan Januari, sudah ada perubahan yang membuat virus ini menjadi lebih menular. Bukan berarti dia lebih mematikan," kata Haseltine.

"Virus ini menjadi 10 kali lebih menular dibandingkan sebelumnya."

Pabrik Virus
Para peneliti lain juga sebelumnya sudah mencurigai hal ini. Pada April, Bette Korber dan timnya dari Los Alamos National Laboratory, AS, menyampaikan kekhawatiran mereka di peladen BioRxiv, dengan mengatakan bahwa mutasi D614G "harus segera mendapat perhatian" karena telah menjadi strain virus corona yang paling umum menyebar di Eropa dan AS.

"[Srain] ini mulai menyebar di Eropa awal Februari, dan ketika merambah kawasan baru mereka dengan cepat menjadi bentuk yang dominan," tulis Korber dan para mitranya.

Menurut Haseltine, tim peneliti di Scripps telah menguji mutasi ini dalam tiga eksperimen terpisah.

"Mereka mengukurnya dengan tiga cara yang elegan, bukan hanya satu," ujarnya.

Mutasi ini membuat virus tersebut tidak saja lebih mudah menempel pada sel, tetapi juga lebih mudah menembusnya.

Begitu infeksi terjadi, virus ini membajak sel korbannya dan menjadikannya pabrik virus untuk terus menciptakan tiruannya. Untuk bisa melakukan ini, mereka harus pertama kali menemukan cara bagaimana bisa menembus sel.

"Artinya kita harus mewaspadai perubahan yang konstan ini," kata Haseltine.

"Virus ini akan merespons apa pun yang kita lakukan untuk mengendalikannya. Kalau kita buat obatnya, dia akan melawan. Kita buat vaksin, dia akan berusaha mengepungnya. Kita tetap tinggal di rumah, dia akan mencari cara bagaimana bisa menempel lebih lama," pungkasnya.



Sumber: CNN