Riset NTT Limited

Riset: Lonjakan Konsumsi Bandwidth Timbulkan Risiko Keamanan Siber

Riset: Lonjakan Konsumsi Bandwidth Timbulkan Risiko Keamanan Siber
Executive Vice President Intelligent Infrastructure NTT Ltd, Rob Lopez. (Foto: Dok )
Novy Lumanauw / WBP Rabu, 17 Juni 2020 | 09:49 WIB

Jakarta, Beritasatu.com– Merebaknya pandemi virus corona (Covid-19) mendorong para profesional melakukan pekerjaannya dari luar kantor. Selain itu, terjadi peningkatan gelombang migrasi pemindahan aplikasi ke lingkungan multi-cloud sehingga investasi pada cloud jauh melampaui pengeluaran perusahaan dalam meningkatkan infrastruktur jaringan. Hal ini berisiko bagi keamanan siber di organisasi perusahaan.

Demikian hasil riset berjudul “Global Network Insights Report Tahun 2020 “ yang dirilis perusahaan layanan teknologi global NTT Limited, pada medio Juni 2020. Riset yang dilakukan pada 1.000 responden dan mencakup 800.000 perangkat jaringan, menyimpulkan bahwa 46,3 persen dari usia aset jaringan di perusahaan telah menua dan memerlukan pergantian. “Ketika kalangan bisnis memindahkan aplikasi-aplikasi ke lingkungan multi-cloud, maka investasi di cloud akan melampaui biaya infrastruktur di suatu organisasi bisnis,” kata pernyataan tertulis yang diterima pada Rabu (17/6/2020).

Riset NTT Limited juga berhasil menemukan bahwa situasi Covid-19 menyebabkan skema pembaruan dan peningkatan kapasitas sistem jaringan lambat karena semakin banyak organisasi perusahaan memilih menggunakan jaringan yang tersedia dan menunda investasi dalam merancang ulang sistem beserta infrastruktur jaringan agar lebih aman.

“Penundaan ini menambah jumlah perangkat jaringan yang tidak diperbaharui. Hal ini mengakibatkan perangkat lunak sistem jaringan keamanan rawan terjadi gangguan dan mengancam keamanan pada sistem informasi,” demikian disebutkan dalam laporan itu.

Lebih lanjut disebutkan bahwa wabah Covid-19 telah mengakibatkan lonjakan penggunaan bandwidth yang berdampak ketegangan pada jaringan. Apalagi meningkatnya kerja jarak jauh, konsumsi layanan suara, dan video, membuat jaringan milik organisasi perusahaan beserta infrastruktur keamanannya di bawah tekanan luar biasa.

Menurut Executive Vice President Intelligent Infrastructure NTT Ltd, Rob Lopez memasuki tatanan normal baru (new normal) akan banyak pengelola perusahaan melakukan peninjauan kembali strategi peningkatan sistem dan keamanan arsitektur jaringan, operasional, dan dukungan model sehingga dapat mengelola risiko operasional.

“Kami berharap ada perubahan strategi dalam menciptakan prioritas pada kelangsungan bisnis dan persiapan di masa depan saat lockdown mereda. Infrastruktur jaringan harus dirancang secara tepat dan dikelola baik untuk menghadapi berbagai lonjakan baik dari cloud dan infrastruktur fisik di perusahaan," kata Lopez.

Pandemi Covid-19 kata dia, menciptakan perubahan permanen pada tata cara bisnis beroperasi, termasuk penerapan ruang kerja cerdas yang secara fisik dapat mengakomodasikan social distancing di dalam kantor. "Sementara banyak perusahaan akan terus menerapkan kerja jarak jauh,” ujarnya.

Dengan adopsi infrastruktur nirkabel baru yang terus meningkat – dimana terjadi peningkatan 13 persen- serta munculnya kantor terbuka dan ruang kerja bersama, maka pendekatan baru untuk pengembangan arsitektur jaringan akan diperlukan.

Lebih lanjut Lopez mengungkapkan, evolusi jaringan harus berjalan beriringan dengan transformasi digital. Sebagai bagian dari strategi transformasi digital, perusahaan terkemuka sudah menggunakan jaringan untuk memungkinkan terlaksananya model bisnis baru seperti Internet of Things atau mengoptimalkan model operasional yang ada seperti pelacakan aset.

Alternatif lainnya, bisnis dapat berinvestasi dalam teknologi seperti halnya robotic process automation (RPA), sebagai bagian dari inisiatif transformasi digital untuk menghemat biaya dan meningkatkan layanan.



Sumber: BeritaSatu.com