E-commerce dan Perbankan Target Utama Serangan Siber Selama Pandemi

E-commerce dan Perbankan Target Utama Serangan Siber Selama Pandemi
Kelompok peretas Anonymous. (Foto: Reuters / Reuters)
Fana Suparman / FMB Kamis, 16 Juli 2020 | 09:33 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Palo Alto Networks (PANW) mengungkapkan serangan siber di Indonesia meningkat signifikan selama masa pandemi virus corona atau Covid-19. Meski tak memiliki data resminya, Palo Alto menyebut serangan siber menyasar berbagai sektor dan terutama yang berkaitan dengan e-commerce dan perbankan. Hal ini lantaran kedua sektor tersebut karena berkaitan dengan transaksi keuangan.

"Yang pasti yang banyak diretas yang berhubungan dengan monetary. Ada uangnya. Jadi yang ada uangnya tentu yang transaksi-transaksi keuangan termasuk e-commerce dan banking," kata Country Manager Palo Alto Networks Indonesia, Surung Sinamo dalam konferensi pers melalui daring, Rabu (15/7/2020).

Baca juga: Diduga Bocor, Polri Periksa Internal Tokopedia

Surung mengungkapkan di masa pandemi seperti saat ini, transaksi keuangan di e-commerce semakin meningkat. Bahkan, masyarakat yang sebelum pandemi hanya sebulan sekali bertransaksi di e-commerce, kini bisa setiap hari. Meningkatnya aktivitas transaksi di e-commerce menjadi sasaran empuk para peretas.

"Semakin banyak pengguna semakin jadi target hackers," ungkapnya.

Director of Systems Engineering Palo Alto Networks Indonesia, Yudi Arijanto menambahkan, perusahaan e-commerce banyak diserang peretas lantaran menyimpan banyak data pengguna. Apalagi, terdapat pelanggan yang menggunakan kartu kredit dalam bertransaksi di e-commerce.

"Ada pelanggan yang memasukkan data-data kartu kredit, misalnya, ketika dia melakukan transaksi, jadi data kartu kredit ini kan bisa dipakai untuk membeli produk atau jasa," katanya.

Selain e-commerce dan perbankan, Yudi mengatakan serangan siber saat ini menyasar hampir seluruh sektor. Bahkan, kata Yudi terdapat peretas yang menyasar situs institusi pemerintah dan situs kesehatan, terutama yang menyediakan informasi mengenai pandemi corona atau covid-19.

"Kalau pernah menerima email tentang coronavirus, lalu ada attachment file yang sebenarnya malware. Kita buka padahal ternyata meng-install program malware. Jadi jangan sembarang click," tegasnya.



Sumber: BeritaSatu.com