CEO TikTok: Kami Bukan Musuh

CEO TikTok: Kami Bukan Musuh
Ilustrasi Aplikasi TikTok (Foto: Beritasatu Photo / Istimewa)
Feriawan Hidayat / FER Jumat, 31 Juli 2020 | 22:15 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pemerintah India beluma lama ini mengumumkan 59 aplikasi asal Tiongkok, termasuk TikTok, yang dioperasikan perusahaan Bytedance, telah resmi dilarang.

Baca Juga: 3 Langkah Mudah Lindungi Data Privasi di Aplikasi TikTok

TikTok dan aplikasi lainnya, dinilai mengancam kedaulatan dan keamanan negara, karena penanganan mereka yang lemah terhadap privasi pengguna.

Seperti dilaporkan Times of India, Jumat (31/7/2020), beberapa perusahaan di negara itu telah melarang karyawan untuk tidak menggunakan aplikasi TikTok. Selain itu, pemerintah Amerika Serikat (AS) dikabarkan tengah mempertimbangkan untuk melarang aplikasi video pendek ini di negaranya.

Mencermati kondisi yang tidak pasti ini, CEO TikTok, Kevin Mayer, menuliskan sebuah surat yang membela perusahaannya. Surat itu sejatinya ditujukan kepada audiens di AS, namun menyentuh sejumlah masalah. "TikTok telah menjadi target terbaru, namun kami bukan musuh,” tulis Mayer.

Baca Juga: Indosat Tunjuk Komisaris Utama Baru

"Kami mengambil langkah pertama dari banyak orang untuk mengatasi masalah ini dan menyerukan industri untuk mengikuti langkah kami dalam mengutamakan kepentingan pengguna dan pencipta di mana-mana,” tambahnya.

Mayer mengatakan, keberhasilan yang mereka peroleh juga disertai tanggung jawab dan akuntabilitas. Pasalnya, aplikasi TikTok dinilai menerima lebih banyak pengawasan karena asal-usulnya dari Tiongkok.

"Kami menerima kondisi itu, dan menjawab tantangan dengan memberikan kepastian kepada pengguna, melalui transparansi dan akuntabilitas,” jelasnya.

Baca Juga: TikTok Hapus 49 Juta Video yang Langgar Aturan

Mayer menambahkan, perusahaannya siap berkompetisi dan kompetisi bisnis yang adil, dinilainya membuat TikTok lebih baik. "Bagi mereka yang ingin meluncurkan produk kompetitif, kami katakan silakan bawa," tulisnya.

Menanggapi persaingan langsung dengan Facebook, Mayer mengatakan, raksasa media sosial itu telah meluncurkan ‘produk sejenis’ dalam bentuk aplikasi Reels.

Dia mengatakan, Facebook melakukan hal itu setelah aplikasi sejenis lainnya, Lasso, juga mengalami kegagalan. Bahkan, Facebook dinilainya telah merancang strategi untuk mengakhiri kehadiran TikTok di AS.

Baca Juga: Langgar UU Telekomunikasi, TikTok Didenda Rp 2,2 Miliar

"Mari kita fokuskan energi pada kompetisi yang adil dan terbuka dalam melayani konsumen, daripada memfitnah serangan oleh pesaing kita, yang menyamar sebagai patriotisme dan dirancang untuk mengakhiri kehadiran kita di AS," katanya.

Mayer juga menyentuh soal kebijakan tentang larangan penayangan iklan politik dalam surat terbukanya. "Kami bukan politis, kami tidak menerima iklan politik dan tidak memiliki agenda politik. Satu-satunya tujuan kami adalah tetap menjadi platform yang dinamis, dan bisa dinikmati oleh semua orang,” tandas Mayer.

 



Sumber: BeritaSatu.com