Sepi Peminat, Pemilu Mesir Diperpanjang Hingga Hari ke-3

Sepi Peminat, Pemilu Mesir Diperpanjang Hingga Hari ke-3
Panglima Militer Mesir Abdul Fattah Al-Sisi (Foto: Istimewa)
Heru Andriyanto / HA Rabu, 28 Mei 2014 | 01:45 WIB

Kairo – Masalah pemilihan presiden di Mesir bukan soal siapa yang akan terpilih, namun lebih ke siapa yang akan memilih.

Pemilihan umum Mesir yang sudah digelar selama dua hari ternyata hanya diikuti sedikit sekali pemilih dan mengancam legitimasi Abdel Fattah al-Sisi yang mencitrakan diri sebagai calon presiden bagi seluruh rakyat. Akhirnya pemerintah memperpanjang kesempatan pemungutan suara sampai hari ketiga Rabu (28/5) ini.

Hal tersebut diumumkan Selasa malam, setelah sejumlah tempat pemungutan suara melaporkan tidak adanya peningkatan signifikan dalam jumlah pemilih.

Sisi, mantan panglima angkatan bersenjata, diramalkan akan memenangi pemilihan secara telak, namun yang kemudian muncul adalah sikap apatis, sinis dan keyakinan bahwa pemilu kali ini tak lebih dari pentasbihan pemimpin yang sudah ada sekarang. Akibatnya, para pemilih usia muda enggan muncul.

Tambahan pula, kekuatan oposisi yang cukup besar juga menyerukan boikot atas pemilu kali ini.

Sejauh ini belum ada data resmi soal tingkat partisipasi pemilih, namun Ahmed Hafez, direktur eksekutif lembaga monitor pemilu Shayfeenkom, memperkirakan hanya 15-20% dari pemilih terdaftar yang muncul hari Senin, dan lebih rendah lagi pada hari Selasa.

"Wilayah atas Mesir benar-benar kering," ujarnya, merujuk pada bagian selatan negara itu yang menjadi wilayah kubu Islamis yang berkuasa sebelum digulingkan oleh Sisi.

Menurut Hafez, salah satu stafnya di TPS dekat kota Qena melaporkan hanya enam dari ribuan pemilih terdaftar yang memberikan suara.

Koran-koran swasta dan pemerintah mendesak pemilih untuk hadir Senin lalu, namun rupanya sia-sia saja.

Senin malam, Perdana Menteri Ibrahim Mehleb mengumumkan hari libur nasional agar semua pegawai negeri bisa memilih. Pasar modal juga ikut-ikutan memberi hari libur mendadak. Namun Selasa pagi, jumlah pemilih hanya sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali di sejumlah TPS.

Bintang televisi Tawfik Okasha muncul di acara siang hari mendesak pemirsa untuk memberikan suara.

"Apa yang anda mau (agar pergi ke TPS)? Apa saya harus telanjang?" kata bintang pria itu. Lalu dia bercanda bahwa para wanita yang pergi shopping dan bukannya menuju ke TPS “perlu ditembak.”

Mal terbesar di Kairo juga tutup lebih awal, jam 4 sore, agar pemilih punya waktu. Beberapa angkutan umum menaikkan tarif supaya warga tidak bepergian. Namun beberapa jam menjelang tenggat, akhirnya pemerintah memutuskan memperpanjang waktu hingga Rabu.

Seorang pendukung Sisi, Khaled Ahmed, 33, mengaku kaget melihat sepinya TPS tempatnya memilih. Akuntan itu mengatakan mulai berpikir kalau media massa Mesir mungkin telah membesar-besarkan pemberitaan soal Sisi.

"Mereka melebih-lebihkan. Dan sebagian besar dari generasi muda tidak percaya pada Sisi."

Ashraf, 21, simpatisan kelompok Muslim Brotherhood yang sebelumnya berkuasa, menggambarkan Sisi sebagai "Hosni Mubarak yang baru."

Sejak Sisi menyingkirkan Presiden Mohamed Morsi yang juga pemimpin Muslim Brotherhood, sekitar 1.000 pendukung Morsi terbunuh dan puluhan ribu orang dipenjara.

 

Sumber: Global Post