Media Tradisional Disensor, Anak Muda Malaysia Beralih ke Media Sosial

Media Tradisional Disensor, Anak Muda Malaysia Beralih ke Media Sosial
Selasa, 6 Desember 2011 | 03:00 WIB
Maraknya kontrol pemerintah terhadap media tradisional, kelompok usia muda di Malaysia pun beralih ke media sosial berbasis digital sebagai sumber utama informasi mereka.

Dalam indeks kebebasan pers 2010 yang disurvei oleh organisasi jurnalis internasional Reporters Without Borders (RWB), Malaysia berada di peringkat ke 141 dari 178 negara, di bawah Indonesia yang berada pada peringkat 117, Kamboja di peringkat 128, dan Singapura yang menduduki peringkat 136.

Namun kondisi kebebasan pers Malaysia tahun lalu masih lebih dibanding Brunei di posisi 142, Thailand di posisi ke 153, Filipina di posisi 156, Vietnam di posisi 165, dan Laos di peringkat 168. Peringkat kebebasan pers yang terendah di ASEAN adalah Myanmar di posisi 174.

"Apa yang dilaporkan media arus utama (di Malaysia) bukan kebohongan. Tapi, hanya setengah dari kebenaran. Oleh karena itu, masyarakat sudah mulai hilang kepercayaan terhadap media arus utama," ujar Marcus van Geyzel, seorang blogger dari Malaysia, dalam sebuah perbincangan mengenai lanskap dunia digital di Asia Tenggara dengan blogger-blogger dari beberapa negara anggota ASEAN yang diadakan pusat kebudayaan Amerika @america, Minggu (4/12).

Namun, tambah Marcus, pemerintah Malaysia tidak memberlakukan sensor terhadap konten blog di internet. Bahkan, pemerintah dan politisi di Malaysia mulai mengadopsi penggunaan media sosial.

"Mereka memilih menggunakan media yang ada di internet, daripada memblokirnya," ujar Marcus, sambil menambahkan bahwa kebijakan itu adalah bagian dari usaha pemerintahan Perdana Menteri Najib Razak untuk "terlihat lebih ramah kepada  blogger."

Walaupun begitu, Marcus mengatakan, pemerintah Malaysia tidak akan mendukung kegiatan yang akan mendorong munculnya lebih banyak blogger di sana.

"Pemerintah Malaysia tidak akan mendukung ide dan akan sangat berhati-hati untuk menyediakan ruang lebih banyak bagi blogger karena apa akan ditulis akan merusak kredibilitas mereka," ujar Marcus, yang sehari-hari berprofesi sebagai pengacara.