Pasokan Minyak Berlebih Hingga Pertengahan 2017

Pasokan Minyak Berlebih Hingga Pertengahan 2017
Pendapatan dari minyak mentah menyumbang sekitar 80% terhadap penerimaan negara, kemudian harga minyak mentah anjlok sekitar tiga perempat dari level puncak pada pertengahan 2014. ( Foto: AFP Photo / Haidar Mohammed Ali )
Happy Amanda Amalia / SN Rabu, 14 September 2016 | 10:05 WIB

Paris – Melimpahnya pasokan minyak mentah global telah merugikan negara-negara produsen dan kondisi ini diperkirakan berkepanjangan enam bulan lebih lama dari yang diperkirakan sebelumnya. Demikian disampaikan oleh Badan Enegi Internasional (IEA), dalam laporan bulanan yang dirilis, Selasa (13/9).

Kelebihan pasokan membuat harga minyak mentah jatuh selama dua tahun terakhir. Situasinya bak dua sisi mata uang karena harga yang rendah menguntungkan negara-negara konsumen.

Menurut IEA, pertumbuhan permintaan saat ini melambat, sedangkan pasokannya meningkat. Dengan demikian kelebihan pasokan bakal berlanjut setidaknya sampai semester pertama tahun depan.

Sebelumya, IEA yang berkantor pusat di Paris, Prancis ini memperkirakan kelebihan pasokan minyak mentah surut di paruh kedua 2016. Pertanyaan besarnya saat ini adalah kapan pasar minyak dunia kembali mendapati keseimbangan.

Ditambahkan juga bahwa harga saat ini yang di atas US$ 45 per barel akan memperlihatkan penurunan pasokan dan kuatnya pertumbuhan permintaan.

“Namun, tampaknya yang terjadi sekarang justru sebaliknya. Pertumbuhan permintaan melambat dan pasokan meningkat,” bunyi laporan IEA, seperti dikutip AFP.

Tren tersebut dapat memicu spekulasi pembekuan produksi demi menyokong harga. Harapan akan hal tersebut ada dalam antara negara-negara anggota Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC) dan negara non-OPEC, Rusia, dalam pertemuan di Aljazair bulan ini.

Di sisi lain, Tiongkok dan India harus tertatih-tatih. Padahal sebelumnya, kedua negara itu menjadi pendorong utama pertumbuhan permintaan minyak mentah hingga baru-baru ini.

Adapun perlambatan di Amerika Serikat (AS) dan kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi di negara-negara berkembang turut berkontribusi terhadap perkembangan mengejutkan tersebut.

Permintaan minyak mentah global saat ini diperkirakan tumbuh 1,3 juta barel per hari (bph) pada 2016 -dari perkiraan awal pertumbuhan 1,4 juta bph- menjadi 96,1 juta bph. IEA juga memangkas perkiraan pertumbuhan permintaan pada 2017 sebesar 200 ribu bph menjadi 97,3 juta bph.

Sementara itu, dari sisi penawaran, produksi minyak mentah pada Agustus 2016 mencatatkan penurunan. Hal ini dipicu oleh para produsen di luar OPEC.

Setelah naik pada Juni dan Juli tahun ini, pasokan minyak dunia pada bulan lalu turun 300 ribu bph menjadi 96,9 juta bph.

Akan tetapi, pasokan minyak mentah dari negara anggota non-OPEC diperkirakan rebound di tahun depan, setelah sempat merosot pada tahun ini. IEA menyebutkan, produksi OPEC pada bulan lalu naik tipis hingga ke level pasokan mendekati rekor dan nyaris mengimbangi penurunan tajam dari negara anggota non-OPEC.

Laporan IEA juga menyebutkan, negara-negara produsen Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat Arab (UEA), dan Irak semuanya mencapai atau hampir mencapai level produksi tertinggi.

“Derasnya produksi minyak Arab Saudi sampai bisa mengambil alih posisi AS dan menjadi produsen minyak terbesar di dunia,” bunyi laporan IEA.

AS telah menduduki posisi itu sejak April 2014. Pada akhir 2014, OPEC mengubah strateginya untuk mempertahankan pangsa pasar, ketimbang harga. Langkah ini memukul para produsen minyak non-OPEC yang biaya produksinya tinggi.

Di antara mereka, AS menjadi negara yang sangat menderita. Padahal sebelumnya negara adidaya itu merupakan mesin pertumbuhan pasokan non-OPEC. Sedangkan Iran terus meningkatkan produksi minyak mentahnya setelah pencabutan sanksi-sanksi Barat pada Januari 2016.

Sebelumnya Iran harus menderita akibat sanksi-sanksi yang dijatuhkan bertahun-tahun terkait program pengembangan senjata nuklir. Produksi 14 anggota OPEC naik tipis pada Agustus 2016 menjadi 33,47 juta bph.







Sumber: Investor Daily