Raja Salman, dari Transformasi Riyad hingga Visi 2030 Arab Saudi

Raja Salman, dari Transformasi Riyad hingga Visi 2030 Arab Saudi
Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud. ( Foto: AFP )
Iwan Subarkah / AB Rabu, 1 Maret 2017 | 12:20 WIB

Tiga bulan sebelum naik takhta sebagai raja Arab Saudi, tepatnya pada April 2015, majalah Time mengumumkan Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud termasuk dalam daftar tahunan “The 100 Most Influential People”. Raja Yordania, Abdullah II bin al- Hussein menuliskan testimoni untuk Raja Salman atas keterpilihannya itu.

“Hanya segelintir kepala negara yang memiliki sejarah dan tradisi kenegarawanan seperti yang disandang saat ini oleh Yang Mulia Penjaga Dua Masjid Suci Raja Salman,” kata Raja Abdullah II.

Ia menjelaskan, Raja Salman memikul tradisi-tradisi terbaik kepemimpinan dan memiliki kemampuan yang unik untuk memimpin Kerajaan Arab Saudi ke depan.

“Sejak muda, Yang Mulia sudah bekerja dengan sebagian besar raja-raja Arab Saudi dalam membangun negaranya. Secara pribadi beliau dipuji dalam pembangunan ibu kota, Riyad, menjadi sebuah kota global yang modern,” tutur Raja Abdullah II.

Ia juga mengatakan dedikasi Raja Salman dalam melayani serta menjaga keyakinan adalah tugas terhadap kaum Muslim yang ia pikul dengan sepenuh hati.

“Hari ini, pria berprinsip ini membawa pengalamannya yang kaya dan kebijaksanaannya yang mendalam pada saat-saat yang kritis untuk memajukan tidak hanya Kerajaan Arab Saudi dan rakyatnya, namun juga wilayah kami serta dunia,” tandas Raja Abdullah II.

Pernah Jadi Gubernur
Raja Salman lahir pada 31 Desember 1935 di Riyad. Ia adalah putra dari Ratu Hassa al-Sudairi. Raja Salman adalah gubernur Riyad pada 1955-1960 dan 1963-2011. Ia juga pernah menjabat menteri pertahanan menyusul kematian kakaknya, Pangeran Sultan.

Selama bertahun-tahun sebelum naik takhta pada awal 2015, Salman digambarkan sebagai calon raja Saudi berikutnya. Raja yang dikenal pekerja keras ini juga membawa pragmatisme sehingga pengaruh keluarga al-Saud tetap bertahan hingga sekarang dan tetap berhubungan dengan lingkaran-lingkaran liberal maupun garis keras di negaranya.

Raja Salman sebelumnya dipilih sebagai pewaris takhta pada 2012, menyusul kematian tiba-tiba kakaknya, putra mahkota Naif, yang baru tujuh bulan menjadi pewaris takhta menyusul kematian kakak lainnya, putra mahkota Sultan. Karena kondisi kesehatan Raja Abdullan menurun selama beberapa tahun, peran Salman mulai mencuat dan dikenal di kancah dalam negeri maupun internasional.

Salman melawat dan bertemu para pemimpin negara-negara lain karena masa depan kerajaannya yang konservatif berbenturan dengan masa-masa yang krusial.

Pemerintah Saudi memimpin kontrarevolusi terhadap kekuatan-kekuatan yang terkait dengan Arab Spring. Di tengah meningkatnya instabilitas di Timur Tengah, hubungan negaranya dengan Amerika Serikat (AS) memburuk karena negara adidaya itu dianggap berpangku tangan atas krisis di Suriah dan melonggar terhadap musuh lama Saudi, Iran.

Saudi juga dihadapkan pada tantangan ekonomi akibat kejatuhan harga minyak mentah sejak pertengahan 2014 hingga setidaknya akhir tahun lalu. Pada saat perannya makin meningkat dan kuat, kondisi kesehatan Raja Salman dilaporkan menurun, hingga memicu ketidakpastian tentang keberlangsungan kekuasaannya.

Beliau kemudian mengangkat adiknya, Muqrin, sebagai putra mahkota, dan meminta para anggota keluarga Dewan Kesetiaan Al Saud untuk mengakuinya, sesuai dengan wasiat mendiang Raja Abdullah.

Raja Salman membangun reputasinya sebagai gubernur Provinsi Riyad dan menduduki kursi kekuasaan Rumah Saud.
Ia memegang posisi berpengaruh selama hampir 50 tahun, mengontrol anggaran, dan menyandang pengaruh yang tak tertandingi di antara suku-suku di Arab serta kalangan ulama -khususnya polisi syariah.

Selama kepemimpinannya, Raja Salman memimpin transformasi ibu kota Riyad, dari kota kecil bergurun dan berdinding-dinding lumpur dengan beberapa ribu penduduk jadi ibu kota modern berpenduduk lima juta orang. Infrastruktur Riyad menjadi modern hingga mengundang kecemburuan kota-kota lain dan lebih kaya di Saudi, seperti Jeddah di bagian barat dan kota kaya minyak Dammam, di bagian timur Saudi.

Visi 2030
Dimulai pada Minggu (26/2), Raja Salman menjalani lawatan selama tiga pekan ke negara-negara di Asia, dimulai dengan Malaysia lalu ke Indonesia. Selain itu, Raja Salman dijadwalkan melawat ke Brunei, Jepang, Tiongkok, Maladewa, dan Yordania. Lawatannya ke Jepang dan Indonesia diperkirakan menjadi yang terpenting. Raja Salman melakukan lawatan ini karena mengincar investasi serta kepakaran, seiring upaya reformasi sejak tahun lalu untuk mendiversifikasikan perekonomiannya dari ketergantungan terhadap minyak yang dikenal dengan Visi 2030.

Visi 2030 diumumkan pada 25 April 2016 oleh Deputi Putra Mahkota Pangeran Mohammad bin Salman al-Saud. Sasaran-sasaran dari Visi 2030, antara lain mengubah Saudi Public Investment Fund menjadi sovereign fund dengan nilai aset US$ 2,5 trililun atau yang terbesar di dunia. Lembaga investasi ini akan menguasai 10 persen lebih kapasitas investasi global.

Saudi juga mencanangkan pendapatan non-minyak naik enam kali lipat dari sekitar US$ 43,5 miliar per tahun menjadi US$ 267 miliar dan meningkatkan ekspor non-minyak dari 16 persen PDB menjadi 50 persen PDB.

Saudi juga berambisi masuk kelompok 15 negara dengan perekonomian terbesar di dunia, dibandingkan saat ini yang berada di posisi 20. Dalam hal sumber energi, Saudi akan membangun pusat energi surya di bagian utara negara.

Industri di Saudi, menurut Visi 2030 akan didasarkan pada kekuatan energi surya, bukan pada sumber energi lain yang kurang di negara tersebut, seperti air.

Lalu, Saudi akan melepas kurang dari 5 persen saham raksasa minyak negara, Aramco, dan perolehan dananya akan digunakan untuk mendanai sovereign wealth fund.

Saudi juga berencana meningkatkan jumlah kunjungan jemaah haji dan umrah dari delapan juta menjadi 80 juta pada 2030 dengan pembangunan infrastruktur, seperti bandara Jeddah dan Taif. Infrastruktur di Mekah serta area-area investasi di seputar Masjidil Haram juga akan ditingkatkan.

Arab Saudi yang berpenduduk 33 juta jiwa memiliki PDB sebesar US$ 2,145 triliun atau ke-13 terbesar di dunia dengan PDB per kapita US$ 65.000 atau ke-10 terbesar di dunia.

Angkatan kerjanya berdasarkan data 2009 mencapai 7,63 juta orang. Namun, sekitar 80 persen tenaga kerja di sektor jasa berasal dari luar negeri.

Berdasarkan Visi 2030, Arab Saudi berupaya meningkatkan partisipasi perempuan di pasar tenaga kerja dari 22 persen menjadi 30 persen dan mengurangi tingkat pengangguran dari 11,6 persen menjadi 7 persen. Saudi juga berencana meningkatkan kontribusi sektor swasta terhadap PDB dari 3,8 persen menjadi 5,7 persen.